Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2011

Zina Dalam Label Pacaran

Zina Dalam Label "Pacaran"

Sedih dan mengenaskan dua kata yang saya pilih saat saya bertemu dengan seorang sahabat yang ternyata hamil diluarnikah, oleh seorang kekasihnya yang tidak bertanggung jawab, seperti sebuah tayangan di sinetron ditelevisi, sudah menjadi sebuah kisah nyata yang ada pada masyarakat, hal ini adalah salah satu hasil Televisi dan tayangan media lain dalam merusak budaya yang ada pada masyarkat.

Saat ini cinta yang identik dengan pacaran adalah hal yang lumrah, hal ini dapat di lihat dalam beberpaa sinetron di televisi, bahkan anak SD pun sudah ditayangkan dalam hal pacara/percintaan. Apa yang dilakukan oleh orang yang berpacaran? secara kasat mata orang itu akan berpegangan tangan, lalu apa sih pacaran itu Pacaran diidentifikasikan sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai antara lawan jenis. Apabila kita lihat secara sepintas dari definisi diatas mungkin dapat disimpulkan bahwa pacaran itu merupakan suatu yang wajar dilakukan dikalangan kita saat ini.

Terlepas dari tujuan Awal mungkin tujuan dari pacaran adalah untuk saling mengenal,untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, tapi pada tingkatan tertentu pacaran bisa jadi sebagai pelampiasan hawa nafsu bagi dua insan yang berbeda jenis. coba telaah dari beberapa kasus pacaran berapa persen yang memang pengenalan menuju pernikahan? jawabannya adalah sangat sedikit sekali, apakah benar yang sudah pacaran lama akan jadi dan menikah? jawabanya adalah tidak.Ketika kita pacaran, resiko yang kita dapat adalah patah hati, sakit hati, dan kita mendekati zina (bagaimana tidak kalau pacaran kemungkinan besar kita akan berpegangan tangan, Berciuman, atau bahkan melakukan zina/Bersetubuh)

fenomena hamil di luar nikah begitu marak, dan masyarakat pun sudah menganggap hal ini sebagai sesuatu yang biasa. Di mana-mana ada pemilu (pengantin hamil dahulu). Ironisnya, maksiat ini banyak dilakukan umat Islam, padahal Islam mengajarkan umatnya agar jangan mendekati zina... tapi kenapa hal ini bisa terjadi karena masyarakat tidak menjalankan islam secara menyeluruh, dan hasilnya Zina dan pacaran menjadi hal yang wajar dan biasa di mata umat islam dan penduduk indonesia pada umumnya.

Inilah dampak kebebasan yang begitu diagung-agungkan, begitu banyak Media Televisi,Majalah,Koran,DVD, FIlm, Internet yang menayangakan informasi yang salah, dan ini salah satu dampak kehancuran budaya bangsa akibat tayangan TV yang tidak bermoral. hal ini dapat kita lihat dari perubahan pandangan di masyarakat terjadi Perubahan nilai atau cara pandang terhadap pergaulan antar lawan jenis pun berubah. Kalau dulu, pacaran atau bermesraan di depan umum dianggap tabu, kini hal itu dianggap biasa. Jangankan bersentuhan atau sekadar berciuman, yang lebih dari itu pun dilakukan, dengan tanpa rasa malu! Naudzubillah mi jalik...

Banyak kasus, karena hubungan pacaran yang terlalu bebas, dua insan yang dimabuk cinta.saat Hawa nafsu telah membius mereka, maka zina terjadi. Allah telah melarang mendekati zina apalagi kita berbuat zina, karena kalau kita telaah secara nalar dan akal, konsekuensi dari berbuat zina adalah sungguh berat dan membuat cemoohan dan siksa batin yang berat.

Bagi seorang gadis yang hamil di luar nikah karena zina, seringkali menyisakan rasa malu yang dalam. Gara-gara hamil di luar nikah, sekolah terpaksa kandas. Dan semua orang tahu, kini ia tidak gadis lagi. Duh, malu ...rasanya! Tambah malu lagi, bila sang pacar tidak mau mengakui atau bertanggung jawab atas perbuatannya. Bila begini jadinya, rasanya, habislah sudah masa depannya. Penyesalan pun selalu datang terlambat. maukah anda atau keluarga kita mengalami hal ini..? pasti tidak mau kan, tapi mengapa kita membiarkan saudara, anak kita mendekati zina?

Tidak kah juga kita fikirkan saat kita berbuat kenikmatan sesaat sebuah konsekuensi lainya, kemarahan dan aib orang tua, rasa malu seorang anak yang ada karena perbuatan zina, jika kelak ia tahu, bahwa ia lahir ke dunia ini disebabkan perbuatan yang memalukan. zina adalah perbuatan yang sepantasnya hanya dilakukan binatang itu.

Normalnya, dalam pernikahan, kehadiran anak dianggap sebagai anugrah yang tak ternilai harganya. Tapi, bila anak terlahir dari hubungan di luar nikah, maka ia pun dianggap sebagai aib. Tak jarang, sebelum ia lahir ke dunia, orangtuanya berusaha menggugurkannya. Setelah lahir pun, seringkali ia hanya dibuang begitu saja, seperti sampah yang tak berharga. dan sebuah dosa lain akan tercipta disini yaitu sebuah pembunuhan sebuah nyawa. Zina dapat menyemai permusuhan dan menyalakan api dendam antara keluarga wanita dengan lelaki yang telah berzina dengannya.

Jika wanita yang berzina hamil dan untuk menutupi aibnya ia mengugurkan kandungannya itu maka dia telah berzina dan juga telah membunuh jiwa yang tidak berdosa . Jika dia ialah seorang wanita yang telah bersuami dan melakukan kecurangan sehingga hamil dan membiarkan anak itu lahir maka dia telah memasukkan orang asing dalam keluarganya dan keluarga suaminya sehingga anak itu mendapat hak warisan mereka tanpa disedari siapa dia sebenarnya. Amat mengerikan, naudzubillah min dzalik.

Terlepas dari sah atau tidaknya pernikahan MBA biasanya tidak akan membawa kebahagiaan yang langgeng dalam rumah tangga. Sebab pernikahan sudah kehilangan makna, tidak sakral lagi. Tak ada 'malam pertama' yang indah nan penuh kejutan. Karena semua dirasakan sebelum menikah. Mungkin, yang ada justru kejenuhan, penyesalan dan keterpaksaan. Zina menghilangkan harga diri pelakunya dan merosakkan masa depannya di samping meninggalkan aib yang berpanjangan bukan sahaja kepada pelakunya malah kepada seluruh keluarganya. Penzina yang berani melakukan maksiat ini dengan terang-terangan lebih buruk daripada mereka yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Jadi masihkah kita mau mendekati zina,atau dengan kata lain "bercinta" kalau konsekuensi logis dari pacaran atau zina bila yang kita dapat adalah sebuah kenikmatan semu? mau kah kita menjaga keluarga kita dari ancaman zina yang membius dan mengancam dari berbagai pihak. Semoga tidak ada lagi perbuatan haram yang memang berakibat buruk bagi kita semua.

"Terbius zina sesaat, Sesal kita selamanya"

Depok 2 juni 2008
Erwin Arianto

READ MORE - Zina Dalam Label Pacaran

uangku diganti lebih oleh ALLAH

Uang ku diganti lebih oleh Allah
Seperti biasa hari kamis kemarin, saya sedang berpuasa senin kamis, saat merayapi jalanan ibu kota yang memang padat hari itu, memang melelahkan,disamping dahaga dan haus setelah seharian berpuasa, serta lelah pulang kerja dari daerah cikarang. terdengar Azan maghrib menggema, kutepikan Motorku di sebuah mesjid di bilangan MT haryono untuk memenuhi panggilan Allah SWT.

Saya pun menjalankan sholat maghrib, selesai menjalankan sholat maghrib, saya berniat berbuka dengan membeli semangkuk somay, saya periksa tas saya, ternyata hari ini saya lupa membawa dompet. tapi saya coba mencari di selipan tas ternyata saya menumukan uang-uang recehan yang memang sisa kembalian Alhamdulillah, saya membayangkan akan berbuka dengan semangkuk somay.

Ketika saya melangkah keluar masjid saya melihat seorang yang sedang duduk di masjid itu, sambil kelihatan bingung dan mencoba mencari sesuatu di tasnya, saya coba menyapa orang itu, "Assalamualaikum" sapa saya, Orang tersebut masih kelihatan mencari sesuatu walau dengan tergagap dia menjawab "waalaikumsalam wr.wb", "kenapa pak mencari sesuatu" tanya saya waktu itu.

orang tersebut hanya diam, "iya dompet saya hilang dik" jawabnya, "hilang dimana pak" tanya saya kepadanya. "entahlah" jawabnya, "Saya a bingung tidak punya ongkos pulang", waduh dalam hati saya berkata saya kasih uang orang itu atau tidak ya...kan uang ini cuma yang saya punya, lagian inikan buat beli somay buat buka puasa, apakah saya akan memberi uang ini pada orang itu. sesaat perdebatan hati saya terus berkecambuk, nanti saya engga buka lagi. tapi kasihan bapak ini nanti dia tidak bisa pulang lagi...begitulah hati ini berdialog waktu itu

Setelah beberapa saat tertegun, dan berdialog dengan hati ini yang sebenarnya berat untuk memberi, tapi entah kenapa hati nurani ini merasa iba, saya ulurkan uang RP 20.000 yang tersisa, karena hari itu dompet saya tertinggal dirumah. "ini pak buat ongkos.." kata saya kepada orang itu,sambil menyerahkan selembar uang Rp.20.000

Setalah orang itu pergi setalah mengucapkan terimakasih, saya duduk di masjid itu, perang dihati masih berkecambuk, ditambah rasa lapar karena saya belum buka, sedikit sesal terjadi pada diri saya, kenapa saya memberi uang itu semuanya tidak sebagian saja, kan bisa beli somay pikir saya. Tapi setengah hati lain saya teringat sebuah ayat alquran yang berisi ''Dan hendaklah orang yang disempitkan rezekinya bersedekah.' (QS Ath-Talaq ayat 5.), saat itu yang saya lakukan hanya mengikhlaskan saja, lagian cuma Rp 20.000 engga buat saya miskin toh, dan buat apa saya berpuasa kalau hanya rasa lapar sesaat tidak bisa saya tahan.

Iseng tangan saya merogoh tas Mencari-cari sesuatu saya mendapatkan permen dan uang Rp 1000, Alhamdulillah pikirku,dan uang itu saya belikan aqua gelas, Alhamdulillah haus ku sudah hilang, setelah itu saya melaju pulang ke rumah.

Sesampai dirumah Seorang tetangga datang bertamu, dengan mengantarkan rantang susun 4, ternyata isinya banyak sekali makanan, ternyata tetangga saya itu habis selamatan atas kelahiran bayinya. setelah tetangga saya pulang saya buka banyak sekali terdapat makanan disana. hati ini tiba-tiba tersadar. bukanya tadi aku ketakutan akan lapar, Astagfirullah.. ternyata Allah mengganti uang Rp 20.000 dengan balasan yang berlipat ganda, dan Allah telah menepati janji-Nya.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui". {Qs. Al Baqarah (2) : 261}

Allahu Akbar.. Alhamdulillah... terima kasih atas hikmahnya ya Allah...

Depok, 12 Juni 2008
Erwin Arianto
Hak cipta selamanya oleh Allah © Subhanahu wa Ta'ala materi dapat disalin dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan
READ MORE - uangku diganti lebih oleh ALLAH

Pahala menafkahi keluarga

Pahala Menafkahi Keluarga

Kepada setiap kepala keluarga, perhatikanlah kabar-kabar gembira yang menunjukkan betapa besar nikmat Allah subhanahu wata'aala untukmu! Betapa sempurnanya karunia dan pemberian yang dikaruniakan-Nya atasmu! Dia telah mengaruniaimu keturunan yang dengannya dapat menghiasi kehidupanmu, melapangkan dadamu dan memperbanyak keturunanmu, serta menambah pahalamu kelak di akhirat.!

Kerasnya tantangan kehidupan dalam mencari rizki, beratnya beban tanggung jawab yang melelahkan dan debu-debu tanah yang menempel seakan begitu berat, tampak di wajahmu dalam perjuangan (jihad) terbesar dan ibadah paling mulia
bagimu itu. Karenanya, janganlah bersedih! Itu adalah Sunnatul Hayah (tradisi kehidupan). Di situlah, kamu dicetak dan dengannya kamu diciptakan. Namun bagi orang yang memahami syariat Allah subhanahu wata'aala, maka hal itu menjadi demikian manis dan baik, sementara bagi orang yang menentang syariat-Nya, maka itu menjadi kesengsaraan dan kesia-siaan.

Keutamaan Memberi Nafkah Keluarga

Hanya orang yang jiwa kelelakiannya telah terpatri dalam hatinyalah yang dapat bersedih atas keluh-kesah keluarganya. Dan dalam hal ini, sama saja antara seorang budak dan orang merdeka, seorang Mukmin dan orang kafir. Hanya saja, seorang Mukmin yang tulus menjadikan jalan keluar atas keluh-kesah keluarganya itu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah subhanahu wata'aala dan sebagai sarana mencari ganjaran dan pahala dariNya, karena ia mengetahui bahwa Allah subhanahu wata'aala telah menjadikannya pemimpin atas keluarganya dan telah memerinci mengenai hal itu dalam sebuah
firman-Nya melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu 'alahi wasallam, Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarga di rumahnya, dan ia bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya itu."(Muttafaqun 'alaih).

Allah subhanahu wata'aala juga menjanjikan pahala yang agung baginya dan keutamaan yang besar atas nafkah yang dikeluarkan dan perawatannya bagi anak-anaknya. Dari Sa'd radhiallahu `anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alahi wasallam berkata kepadanya,"Sesungguhnya, sebesar apapun nafkah yang engkau keluarkan atas keluargamu, maka engkau diberi pahala (atas hal itu), sekali pun sesuap yang engkau sodorkan ke mulut isterimu." (HR.al-Bukhari)

Dalam hadits yang lain, dari Ka'ab bin 'Ujrah radhiallahu `anhu, ia berkata, "Pernah suatu ketika, seorang laki-laki melintas di hadapan Nabi shallallahu 'alahi wasallam, lalu para shahabat beliau melihat betapa keuletan dan semangat orang itu, sehingga membuat mereka kagum, lalu mereka berkata, Wahai Rasulullah, andaikata hal ini termasuk di jalan Allah subhanahu wata aala.?" Maka Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, 'Jika ia keluar untuk berusaha menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu termasuk di jalan Allah subhanahu wata'aala. Dan jika ia keluar untuk
berusaha dengan penuh riya` dan kesombongan, maka itu termasuk di jalan setan." (Shahih al-Jami', 2/8)

Dalam salah satu peperangan, pernah Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata kepada teman-temannya, "Tahukah kalian suatu amalan yang lebih utama dari apa yang kita lakukan saat ini (berperang).?" Mereka menjawab, "Kami tidak mengetahui hal itu." Ia berkata, "Aku tahu itu." Mereka mendesak, "Apa itu.?" Ia menjawab, "Laki-laki suci yang memiliki tanggungan keluarga, shalat di malam hari, lalu memandangi anak-anaknya yang sedang tidur dalam keadaan aurat tersingkap, lalu ia menyelimuti dan menutupi mereka dengan pakaiannya. Maka, amalannya itu adalah lebih utama dari kondisi kita ini."

Bagi yang menjadi tulang punggung keluarga! Hendaknya bergembira karena dijanjikan surga oleh Rasulullah subhanahu wata'aala, yakni selama kamu berada di dalam Jihad Tarbiyah, saat kamu menanggung bebannya, bersabar atas
keletihan yang dirasakan dan berjuang melawan kesulitan-kesulitannya! Bila kamu merasa permasalahanmu demikian pelik dan seakan membuat frustasi, maka lihatlah karunia yang diberikan Allah subhanahu wata'aala kepadamu.Ketika itu, pasti kamu akan merasakan kesabaran memenuhi seluruh relung-relung hatimu, menghapus kesedihanmu, dan memantapkan langkahmu untuk menempuh celah-celah Tarbiyah.

Ingatlah, terkadang para pesedekah mengeluarkan sedekahnya sekali dalam setahun, atau sekali dalam sebulan. Tapi kamu? Dengan mendidik keluarga dan mereka yang berada di bawah tanggunganmu, kamu adalah pesedekah abadi; dengan harta, jiwa, kasih sayang dan kebapakanmu! Dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Miqdam radhiallahu `anhu, ia berkata,
"Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Makanan yang kamu berikan kepada dirimu, maka itu sedekah untukmu; dan makanan yang kamu berikan kepada isterimu, maka itu sedekah untukmu; dan makanan yang kamu berikan
untuk pelayanmu, maka itu sedekah untukmu." (Shahih Ibn Majah, 1739)

Janganlah bersedih, lihatlah bagaimana Allah subhanahu wata'aala mengaruniaimu dua kali nikmat:

a.. Pertama, Saat Dia menganugerahimu keluarga yang bisa jadi Dia tidak menganugerahkannya kepada orang lain. Dia telah berkenan mengaruniaimu keturunan, namun tidak memberikannya kepada orang lain. Dia berkenan memberikanmu anak, namun tidak memberikannya kepada orang lain. Renungkan apa yang diberikan-Nya kepada Rasul-Nya tentang hal itu, (artinya) "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan..." (QS.ar-Ra'd:38) Nikmat mendapatkan anak merupakan nikmat yang besar, yang wajib disyukuri dan untuk melakukannya dituntut suatu perjuangan. Dan ini baru dalam satu nikmat yang faedahnya tidak terhingga banyaknya.

b.. Kedua, saat Dia menjadikan tanggung jawabmu atas anak-anak dan jihadmu dalam mendidik dan menumbuhkembangkan mereka sebagai salah satu pintu kebaikan bagimu di akhirat kelak, saat dan tempat Dia mengampunimu dan menambahkan pahala bagimu karenanya.

Anak Perempuan dan Pahala Besar

Masih saja ada wajah-wajah yang kecewa, cemberut, dan murung manakala mengetahui anak yang barusan lahir dari perut isterinya berkelamin perempuan padahal sejak awal, Islam telah mengharamkan kebiasaan mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan yang dilakukan pada masa Jahiliah, dan mewajibkan berbuat baik kepada mereka. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah subhanahu wata'aala, (artinya) "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah."(QS.an-Nahl:58),

Qatadah berkata, "Ini adalah perangai orang-orang Musyrikin Arab, dan Allah subhanahu wata'aala memberitahukan kepadamu kebusukannya. Adapun seorang Mukmin, maka ia sungguh rela dengan apa yang telah diberikan Allah subhanahu wata'aala kepadanya. Dan apa yang ditakdirkan baginya adalah lebih baik dari diri seseorang. Sungguh, aku tidak tahu, apa itu kebaikannya? Sungguh, betapa banyak bocah perempuan adalah lebih baik bagi keluarganya daripada
bocah laki-laki. Bila Allah subhanahu wata'aala memberitakan kepadamu perangai mereka itu (orang-orang Musyrikin), maka hendaklah kamu jauhi dan berhenti darinya. Dulu, salah seorang dari mereka sudi memberi makan anjingnya namun tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya."

Orang yang bersedih karena kelahiran bayi perempuannya adalah orang yang tidak memahami bahwa Sang Pemberi anak laki-laki dan perempuan itu adalah Allah subhanahu wata'aala. Dia berfirman, "Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS.asy-Syuro:49-50) Para ulama berkata, "Allah subhanahu wata'aala mengedepankan penyebutan perempuan atas laki-laki untuk memberikan karunia kepadanya (Perempuan). Karenanya, Dia memulai penyebutan diri perempuan sebelum laki-laki."

Mengenai betapa besar pahala yang diberikan kepada orangtua yang dianugerahi anak-anak perempuan, simak hadits yang diriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir al-Juhani radhiallahu `anhu, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Siapa saja yang memiliki tiga orang puteri, lalu bersabar, memberi makan, memberi minum dan memberi pakaian mereka dari hartanya, maka mereka kelak akan menjadi penghalang (tameng) baginya dari sentuhan api neraka." (Shahih al-Jami':534) Dalam hadits lain yang mirip dengan itu disebutkan, bahwa bukan hanya bagi yang memiliki tiga orang anak perempuan, bahkan seorang anak perempuan pun, bilamana ia memberikan tempat tinggal, mengasihi dan menanggung mereka, maka dipastikan ia masuk surga. (HR.Ahmad)

Berbahagialah karena mendapatkan rizki berupa anak-anak, yang merupakan kebaikan-kebaikan bagimu kelak setelah meninggalkan dunia yang fana ini. Bila kamu memberikan pendidikan yang baik kepada mereka, niscaya mereka akan
menjadi anak-anak yang shalih lagi beriman. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Bila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya." (HR. Muslim).

Semoga kita tidak menyia-nyiakan peluang yang teramat berharga ini.

(SUMBER: "Ila Shahib al-'Iyal", Divisi Ilmiah Pada Penerbit Dar Ibn Khuzaimah, Riyadh), Abu Shofiyyah )
READ MORE - Pahala menafkahi keluarga

Mungkin Saya Akan Mati hari Ini

Dalam Minggu Kemarin ada beberapa kejadian yang membuat saya berfikir apa yang saya sudah lakukan dalam mengisi hidup ini sudah benar atau tidak , yang pertama Kematian Orang tua (Ayah) sahabat saya seorang Motivator Bapak Eko jalu santoso, Yang kedua Kematian Sahabat saya seorang driver di Kantor Karena Terkena kanker Prostat, Yang ketiga Kematian Sahabat Karib saya sewaktu SD, Bapak Sumartono.

Kematian Sumar/ Sumartono, saya sudah sangat lama tidak berjumpa dengan beliau, perjumpaan saya diawali, Pak Sumar, sering mendapat email dari saya dari milist, dan sebulan lalu, beliau mencoba mengirim email kepada saya, setelah bercerita panjang lebar, ternyata beliau adalah sahabat satu bangku saya pada saat saya SD. saya sangat bergembira karena telah berjumpa dengan beliau, sudah 3 kali kami melakukan pertemuan di daerah Depok.

Yang sangat memukul perasaan saya adalah, perjumpaan denganya terakhir adalah Kemarin hari selasa, dan saya sempat di traktir di sebuah tempat makan masakan padang, sesuatu yang terjadi saat saya di traktir adalah ketika seorang pengemis sepasang manula tua datang sahabat saya tersebut memberi uang RP 200.000, sungguh saya terkejut, jujur saja saya tidak pernah memberi pengemis itu sebanyak itu. ketika saya tanyakan untuk apa kamu memberi uang sebanyak itu kepada pengemis itu, jawabnya saya ingin sedekah kebetulan saya habis dapat rejeki ujarnya kala itu, Disambung lagi dengan tawanya dia berkata, lagian ngapain sih mesti pelit, rejekikan dari Allah, saya tidak tahu kapan saya mati, bisa saja saya mati sekarang atau habis makan ini. dan kamipun hanya tertawa bersama.

Saya tidak menyadari perkataanya itu sebagai tanda perpisahanya, kemarin sore hari rabu pulang bekerja ketika di bus jemputan HP saya berbunyi, ternyata SMS datang dari Sahabat lainya memberitahukan bahwa sahabat saya itu meninggal tertabrak Mobil "inalilahi wa' inaillaihi rojiun " sahabat saya berpulang ke Sang pencipta, dan saya sempatkan pagi ini untuk Megebumikan Jenazah Beliau. Sungguh tidak saya sangka baru 1 hari bertemu dan berbincang besoknya sahabat saya telah berpulang ke Rahmatullah.

Semalaman saya terjaga menangis sejadinya mendoakan sahabat dan Memikirkan kekhilafan dan memohonkan ampun kepada-Nya atas semua yang saya lakukan. saya sadar kematian ternyata bisa datang kapan kun, kepada siapapun, dan Dimanapun. Saya terlalu sering lupa berlutut dan bermunajat kepada Allah di hadapan-Nya, padahal saya sadar Allah senantiasa menghulurkan tangan-Nya untuk hamba yang banyak salah dan dosa ini.

Telah banyak kematian yang bisa dijadikan pelajaran tapi saya sering khilaf dan melakukan banyak dosa, dalam munajat itu terbayang banyaknya dosa yang saya lakukan, dan terpikir apa yang telah saya persiapkan untuk mati. sedangkan dosa saya selalu bertumbuh setiap harinya, mungkin saya pernah menyinggung perasaan sahabat satu kantor,Sahabat milist,mungkin saya juga pernah lupa terhadap janji yang saya buat, atau mungkin ada hutang-hutang yang belum terbayar, Atau atas kesombong-kesombongan yang ada pada diri saya.

Dalam munajat ini hati ini saya terus bertanya kapan waktu saya akan tiba untuk menghadap kepadanya, Apakah besok pagi, atau Lusa, Walau saya tidak tahu kapan waktunya, tapi saya akan segera menghadap untuk mempertanggung jawabkan kehidupan yang telah saya jalani, Menjawab itu seakan saya tidak pernah siap untuk mempertanggung jawabkan semua yang saya lakukan, masih sedikit amal yang saya perbuat ya tuhan, bila waktunya tiba mungkin sebentar lagi kematian akan menjemput saya, maka celakalah saya.

Allah Yang Maha Ahung, Sungguh, malam ini saya masih ingin menhirup Udara esok pagi, saya masih ingin bertemu dengan Sahabat-sahabat semua, Saya masih ingin terus mengapdi kepadamu denngan keikhlasan, Ya Allah teruslah beri petunjuk hamba mu yang sering lalai ini.

Ya Allah, Saya yakin dan Pasti engkaulah maha tahu, tahu yang tersirat dan tersurat, tahu yang tersembunyi atau yang tampak, Malam ini biarkan Saya terus menangis menyesali kehidupanku yang belum banyak berbuat di jalanmu, Duhai Allah jadikan Saya kekasihmu yang selalu merasakan cinta mu yang tak pernah bertepi, dan aku Ucapkan Syukur yang tak terbatas atas yang kau berikan, walau kadang diri merasa terus kurang. Ya Allah Di Penghujung Malam mu ini Saya berserah diri dan ikhlas atas Qodo dan Qodhar yang kau berikan. karena aku tak bisa tahu sampai kapan nafas ini masih berhembus. Alhamdulillah Atas semua karunia mu ya Allah. karena saya tidak akan pernah tahu kapan aku mati. Mungkin saja saya akan mati hari ini. Terimakasih Allah telah Menyadarkan Saya dengan kepergian Sahabat saya Bapak Sumartono.

,Rabbi auzi'nii an asykura ni'matakallatii an'amta 'alayya wa'alaa waalidayya wa an a'mala shaalihan tardlohu wa adkhilnii bi rohmatika fi 'ibaadikash-sholihin. Irhamna Ya arhamarrohimiin.
"Ya Tuhanku, berilah aku kekuatan untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi, serta memasukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. Kasihilah kami wahai Yang Maha Penyayang. Amin.
Erwin Arianto
READ MORE - Mungkin Saya Akan Mati hari Ini

Senin, 24 Mei 2010

MAAF YA...?

MAAF YA...?

KAlo kita jujur, kalimat tersebut merupakan kalimat faforit yang paling sering kita dengar saat ada peminta-minta termasuk para peminta sumbangan yang mengatasnamakan yayasan, ta'mir masjid dsb-dsb. Tanpa mengurangi hormat saya terhadap niat tulus dari teman-teman yang sering mengucap kalimat "MAAF YA" tadi, aku ingin bertukar fikiran, mungkin pendapatku ini salah atau subyektif tapi setidaknya itu baik menurutku.

Aku pernah mendengar Cak Nun (Emha Ainun Najib) dalam sebuah renungan menyampaikan pesan bahwa kepada teman-teman untuk berbuat baik sesuai kemampuan.Salah satu yang dicontohkan adalah jangan kita melarang orang yang mau memberi sodakoh pada peminta dengan kata-kata "jangan diberi, itu tidak mendidik¡"

Argumen yang diajukan oleh Cak Nun dalam bentuk pertanyaan adalah " mampukah kita mendidik mereka ? jangan ¨Cjangan kalimat itu kita pilih sebagai kata-kata yang sudah jamak untuk menolak/mengusir mereka dengan cara yang halus. Kalo kita mampu mendidik, ya¡­didiklah, tapi kalo kita tidak mampu mendidik, apa salahnya kita memberi sekedarnya ? Siapa sih yang punya cita-cita jadi peminta-minta ?

Sesaat setelah aku renungkan pendapat Cak Nun di atas, aku jadi berpikir. Bukankah sadakah merupakan ujud kepekaan sosial yang hakiki ? Bukankah dengan sadakah kita sedang menabung kebaikan ? Bukankah dengan sadakah kita tengah menjalankan perintah Yang Maha Kuasa atas kita ? Bukankan kedatangan saudara-saudara kita yang nasibnya kurang beruntung lalu terpaksa menjadi pengemis adalah sarana yang dikirimkan oleh Allah untuk beribadah bagi kita ? dsb-dsb.

Dengan pertanyaan-pertanyaan tadi, aku jadi tersadar bahwa selama ini aku sering menyia-nyiakan sarana ibadah yang Allah kirimkan padaku. Pertanyaan berikutnya, apakah kita sadar bahwa tiap saat kita sedang menerima sadakah dari orang lain ? Mungkin banyak diantara kita yang menjawab tidak, karena sejak lahir hingga dewasa dan tua selalu hidup dalam kecukupan. Tapi benarkah orang yang seperti itu tidak menerima sadakah dari orang lain ? Ternyata salah, karena tidak ada diantara kita yang mampu menolak sedekah itu. Sadakah apa itu ?
Mari perhatikan isi dari do'a kita dan do'a semua muslim di seluruh dunia tentang ampunan dan keselamatan, pasti didalamnya mengandung kalimat " wali jami'il muslimina wal muslimat.. dst "
Yang artinya, biarpun kita sedang tidur kita tetap sedang menerima sadakah dari saudara kita berupa doa untuk diampuni dosa kita dan diberi keselamatan, entah dari orang dekat atau jauh, kenal atau tidak kenal di Indonesia atau di Irak sana.

Dengan pemahaman inilah, aku berpikir tidak ada salahnya jika kita selalu bersedekah, berinfaq dan beramal jariah, sebagai balanching atas sadakah yang tak pernah kita sadari dari seluruh saudara kita. Subhanaka la 'ilmalana, illa ma'alamtana, maha suci Allah, tidak ada yang kita
tahu, selain yang Allah beri tahukan kekita.

--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - MAAF YA...?

Selasa, 04 Mei 2010

Kenapa Harus Menikah? (persepektif Islam)

Kenapa Harus Menikah? (persepektif Islam)

Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa memotivasi kaum
muslimin untuk memeriahkan dunia dengan nikah.

1. Melengkapi agamanya
"Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan
hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR.
Thabrani dan Hakim).

2. Menjaga kehormatan diri
"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka
nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih
membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah
ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari,
Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia
"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan
sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau
suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang."
(Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no.
309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah
Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah,
orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami
shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa
bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Beliau bersabda, "Bukankah Allah
telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada
tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat
sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan
tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah
perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun
sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami
melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?" Beliau menjawab, "Bagaimana
menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram,
apakah dia akan mendapatkan dosa dengan
sebab perbuatannya itu?" (Mereka menjawab, "Ya, tentu." Beliau bersabda,)
"Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun
akan mendapatkan pahala." (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang
beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda,
"Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua raka'at Dhuha.") (Buku Adab
Az Zifaf Al Albani hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati

6. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik
"Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia
mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru
perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama
memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan
itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit
pun." (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan
kebaikan atau kejahatan.)

Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh
perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya?
Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek
bagi keluarganya?

8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya
dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan akan diganti oleh
Allah, ini janji Allah.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: "Satu dinar yang
kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan
budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu
nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar
yang kamu nafkahkan kepada keluargamu." (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab
Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata: Rasulullah
SAW bersabda: "Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang
kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan
dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah." (HR.
Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada
kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada
keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan
kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: 'Wahai
Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?" Beliau
menjawab dengan bersabda, "Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian
bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu
memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana
kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul
dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka." (Adab Az
Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada
bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: "Sesungguhnya apa saja
yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu
akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu." (HR.
Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin 'Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
"Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang harus
diberi belanja." (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi
nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya. " (Saba':
39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: "Setiap pagi ada dua
malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: "Ya Allah, berikanlah
ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya." Dan yang lain berdoa: "Ya Allah,
binasakanlah harta orang yang kikir." (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush
Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).


9. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut memelihara
anak yatim


Janji Allah berupa pertolongan- Nya bagi mereka yang menikah.
1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika
mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha
Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 32)
2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang
mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan
seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya. (HR. Ahmad 2: 251,
Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

- akhirnya saya bisa melaksanakannya -

--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Kenapa Harus Menikah? (persepektif Islam)