Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 November 2017

Jangan memaksakan kemampuan anak

Mohon di baca sampai habis semoga bermamfaat...Sangat menginspirasi untuk para orang tua

“Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni.
Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras.
Doni meringis.
Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk.
Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu
Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus.
Doni menangis “ Ampun, ....ayah..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung.
Doni tegar dengan siksaan itu.
Tapi matanya memandangku.
Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik adikmu.
Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar.
Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol,,

Mau jadi apa kamu nanti ?
Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni.
Suamiku terduduk dikorsi.
Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku

 “ Kamu ajarin dia.
Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk.
"Dengar itu..!!!“
Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.

Kupeluk Doni.
Matanya memudar.
Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya.

Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol" Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”

“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri.
Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini.
Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “

“ Doni bukan anak ayah.”
Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “

Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni mengigau terus.
Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni.
Kurasakan badannya panas.
Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya
Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas.
Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga

Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya.
Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai.
Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup.
Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Doni adalah putra tertua kami.
Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit
Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga.
Ketika itulah aku hamil Doni.
Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain.
Diapun kurang gizi.
Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN.
Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir, juga laki laki
dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya.
Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula.
Makanya mereka disekolah pintar pintar.
Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku.
Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya.
Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas.
“ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali.
Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas.

“ Aku ini dari keluarga miskin Manapula aku ada gizi cukup.
Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil.
“ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.

Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.?!!!!??

“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “

“ Biar dia bisa dididik dengan benar”

“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”

“ Ini sudah keputusanku, Titik.

“ Tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam.
Aku tahu alasannya.
Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami.
Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni.
Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya.
Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku
dan aku akan selalu ada untuknya Aku tak berdaya.
Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.

Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku.
Dia nampak bingung.
Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.

Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.

Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng.
Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. ...!!!!
Kamu harus ikut kata Ayah.
Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku.
Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok.
Dia harus diajarkan mandiri.
Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.

Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasah Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU
dan Rini kelas 2 SLP.
Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya
Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk.
Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam.
Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan.
Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh

Ku perhatikan tahun demi tahun perubahan Doni setelah mondok.
Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya.
Dia sangat mandiri dan hemat berbicara.
Setiap hendak pergi keluar rumah,
dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku
Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah.
Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas.
 “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas.
Sudahlah.
Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “
Demikian alasan suamiku.
Aku dapat memaklumi itu.
Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok                               
Donipun tidak pernah bertanya.
Dia hanya menanti dengan sabar.

Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan.
Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni.
Tapi Doni tetap diam.
Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku
Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami.
Aku tersentak.
Benarkah itu.
Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda.
TIdak, Bunda percayakan dengan Doni.
Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.”
Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi.
Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni.
Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali.
Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah.
Doni tidak protes.
Dia hanya diam dan menerima keputusan itu.
Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku.
Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah.
Maafkan Doni “ Pesannya.
Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya.
Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni.
Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.

“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.

“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.

*
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah.
Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku.
Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota.
Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri.
Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis.
Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan.
Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh.
Rinipun sama.
Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan sosial kami semakin berkelas.
Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar.
Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja.
Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat.
 Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “

*
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi.
Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan.
Selama proses itupula suamiku nampak murung.
Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensi.
Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara Media massa memberitakan itu setiap hari.
Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya.
Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan.
Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku.
Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan.
Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami.

Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku.
Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.

Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya.
Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya.
Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku.
Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni.
Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame.
Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami.
Tak lebih setahun setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah
Seusai sholat berjamaah Doni tak lupa duduk bersila dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

" Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah.  Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat.  Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita.  Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “

“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah
Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan.
Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat.
Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “

Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis
Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah
Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara
Kesehatannya membaik.
Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah.
Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah

Sahabatku terdapat beberapa pesan moral dlm cerita itu antara lain :

1).Jangan memaksakan kemampuan anak

2).Jangan merendahkan kemampuan anak

3).Kesuksesan bukan hanya diukur dari kemampuan akademik/nilai raport

4).Anak yg kelihatannya "terbelakang" belum tentu gagal

5). Kasih sayang yg kita berikan kpd semua anak harus adil sesuai dng porsinya

6).Jangan hanya memikirikan uang yg banyak tetapi tidak halal..

Semoga bermanfaat buat sahabat semua dan Allah jadikan kita semua dan keluarga kita menjadi hamba yg di rahmati, di Ridhoi, di Berkahi jg di bebaskan dari siksa api neraka...                   
Dari Hamba Allah Yang HINA 
Aamiin...*Mohon di baca sampai habis semoga bermamfaat...*Sangat menginspirasi untuk para orang tua

“Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni.
Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras.
Doni meringis.
Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk.
Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu
Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus.
Doni menangis “ Ampun, ....ayah..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung.
Doni tegar dengan siksaan itu.
Tapi matanya memandangku.
Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik adikmu.
Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar.
Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol,,

Mau jadi apa kamu nanti ?
Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni.
Suamiku terduduk dikorsi.
Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku

 “ Kamu ajarin dia.
Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk.
"Dengar itu..!!!“
Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.

Kupeluk Doni.
Matanya memudar.
Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya.

Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol" Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”

“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri.
Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini.
Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “

“ Doni bukan anak ayah.”
Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “

Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni mengigau terus.
Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni.
Kurasakan badannya panas.
Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya
Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas.
Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga

Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya.
Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai.
Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup.
Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Doni adalah putra tertua kami.
Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit
Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga.
Ketika itulah aku hamil Doni.
Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain.
Diapun kurang gizi.
Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN.
Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir, juga laki laki
dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya.
Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula.
Makanya mereka disekolah pintar pintar.
Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku.
Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya.
Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas.
“ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali.
Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas.

“ Aku ini dari keluarga miskin Manapula aku ada gizi cukup.
Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil.
“ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.

Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.?!!!!??

“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “

“ Biar dia bisa dididik dengan benar”

“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”

“ Ini sudah keputusanku, Titik.

“ Tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam.
Aku tahu alasannya.
Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami.
Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni.
Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya.
Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku
dan aku akan selalu ada untuknya Aku tak berdaya.
Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.

Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku.
Dia nampak bingung.
Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.

Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.

Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng.
Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. ...!!!!
Kamu harus ikut kata Ayah.
Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku.
Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok.
Dia harus diajarkan mandiri.
Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.

Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasah Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU
dan Rini kelas 2 SLP.
Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya
Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk.
Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam.
Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan.
Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh

Ku perhatikan tahun demi tahun perubahan Doni setelah mondok.
Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya.
Dia sangat mandiri dan hemat berbicara.
Setiap hendak pergi keluar rumah,
dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku
Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah.
Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas.
 “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas.
Sudahlah.
Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “
Demikian alasan suamiku.
Aku dapat memaklumi itu.
Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok                               
Donipun tidak pernah bertanya.
Dia hanya menanti dengan sabar.

Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan.
Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni.
Tapi Doni tetap diam.
Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku
Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami.
Aku tersentak.
Benarkah itu.
Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda.
TIdak, Bunda percayakan dengan Doni.
Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.”
Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi.
Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni.
Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali.
Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah.
Doni tidak protes.
Dia hanya diam dan menerima keputusan itu.
Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku.
Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah.
Maafkan Doni “ Pesannya.
Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya.
Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni.
Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.

“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.

“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.

*
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah.
Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku.
Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota.
Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri.
Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis.
Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan.
Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh.
Rinipun sama.
Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan sosial kami semakin berkelas.
Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar.
Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja.
Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat.
 Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “

*
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi.
Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan.
Selama proses itupula suamiku nampak murung.
Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensi.
Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara Media massa memberitakan itu setiap hari.
Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya.
Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan.
Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku.
Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan.
Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami.

Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku.
Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.

Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya.
Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya.
Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku.
Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni.
Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame.
Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami.
Tak lebih setahun setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah
Seusai sholat berjamaah Doni tak lupa duduk bersila dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

" Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah.  Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat.  Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita.  Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “

“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah
Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan.
Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat.
Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “

Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis
Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah
Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara
Kesehatannya membaik.
Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah.
Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah

Sahabatku terdapat beberapa pesan moral dlm cerita itu antara lain :

1).Jangan memaksakan kemampuan anak

2).Jangan merendahkan kemampuan anak

3).Kesuksesan bukan hanya diukur dari kemampuan akademik/nilai raport

4).Anak yg kelihatannya "terbelakang" belum tentu gagal

5). Kasih sayang yg kita berikan kpd semua anak harus adil sesuai dng porsinya

6).Jangan hanya memikirikan uang yg banyak tetapi tidak halal..

Semoga bermanfaat buat sahabat semua dan Allah jadikan kita semua dan keluarga kita menjadi hamba yg di rahmati, di Ridhoi, di Berkahi jg di bebaskan dari siksa api neraka...                   
Dari Hamba Allah Yang HINA 
Aamiin...

*sumber Internet
READ MORE - Jangan memaksakan kemampuan anak

Kamis, 12 April 2012

bersyukur

Bersyukur dengan kelahiran putri kedua ku Qhaira, di balik proses kelahiran putri kedua ku terdapat hikmah yang dapat saya pelajari, dimana saya sempat salah perhitungan dalam menyediapkan dana untuk melahirkan putri saya tersebut, dana yang ada saya terpakai untuk membangun rumah sehingga dana yang ada sangat minim.

Dengan modal berdoa kepada Allah Swt. dan pasrah jika tidak kurang saya berencana menggunakan kartu kredit sementara untuk menutup biaya persalinan. tapi alhamdulillah suatu ketika ada rizky yang tak terduga dapat bonus dari kantor. jadi tersedia dana untuk melahirkan. Alhamdulillah.

Ketika kelahiran putri saya di sarankan untuk ceasar atas petunjuk dari RS tempat istri saya melahirkan. tetapi karena KPD (Ketuban pecah dini) akhirnya bayi saya harus masu ruang pernia atau ICU, diman biaya perhari untuk sewa kamar saja Rp 700 rb, subhanallah biaya yang cukup besar bayi saya di vonis mendapat leukosit tinggi 450.000 putri saya di rawat 5 hari kerja dengan total biaya total persalinan Rp 25.000.000 wow angka besar untuk saya.

tetapi alhamdulillah ada asuransi yang mengcover biaya tersebut sehingga saya hanya membayar sedikit saja untuk kelebihan biaaya persalinan.

Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. ketika kita telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tetapi anda masih merasa kurang.

Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu.

Boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa berbagai keinginan inilah yang menjadi akar perasaan tidak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan kurang berkecukupan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki.

Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dansyukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatianAnda pada sifat - sifat baik atasan, pasangan, maupun orang - orang disekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Hidup kita akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kitamiliki.

Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.berhentilah mengeluh, Keluhan berbahaya karena membuat orang lupa atau buta akan kondisi sebaliknya, dan kalau diulang berkali-kali akan merasuk ke dalam jiwa dan menjadi sesuatu yang kita percayai.

Bersyukur adalah sebuah rasa terima kasih dan penghargaan yang mendalam atas sebuah pemberian dari yang Maha Kuasa, entah bagaimanapun bentuk dan rupa pemberian tersebut.

 Bersyukurlah...Bersyukurlah bila kamu belum memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan.. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu tentang sesuatu Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar..Bersyukurlah untuk masa - masa yang sulit..Di masa itulah kamu tumbuh.....Bersyukurlah untuk keterbatasanmu... Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang..

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...Itu memberi pelajaran yang berharga ...Mungkin mudah untuk kita bersyukur ketika mengalami hal - hal baik ...Namun, hidup yang berkelimpahan justru datang pada mereka yang tetapdapat bersyukur pada masa masa yang sulit ...Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif .. Karenaitu, temukan cara bersyukur ketika menghadapi permasalahan, maka semuaitu akan menjadi berkat bagimu ..

Dan Aku bersyukur pada mu ya Allah atas semua yang telah ku miliki, walau terkadang aku khilaf terkadang menyalahkan mu atas setiap keinginan yang tidak tercapai... aku bersyukur mempunyai keluarga yang baik, pekerjaan yang baik, waktu yang cukup, aku bersyukur atas nikmat sehatmu.... Amin
READ MORE - bersyukur

Minggu, 20 November 2011

Bintang laut

intang Laut

Ketika fajar menyingsing, seorang lelaki tua berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati angin laut yang segar menerpa bibir pantai. Di kejauhan dilihatnya seorang anak sedang memungut bintang laut dan melemparkannya kembali ke dalam air. Setelah mendekati anak itu, lelaki tua itu bertanya heran;

'Mengapa engkau mengumpulkan dan melemparkan kembali bintang laut itu ke dalam air?'. Tanyanya.

'Karena bila dibiarkan hingga matahari pagi datang menyengat, bintang laut yang terdampar itu akan segera mati kekeringan.' Jawab si kecil itu.

'Tapi pantai ini luas dan bermil-mil panjangnya.' Kata lelaki tua itu sambil menunjukkan jarinya yang mulai keriput ke arah pantai pasir yang luas itu. 'Lagi pula ada jutaan bintang laut yang terdampar. Aku ragu apakah usahamu itu sungguh mempunyai arti yang besar.' Lanjutnya penuh ragu.

Anak itu lama memandang bintang laut yang ada di tangannya tanpa berkata sepatahpun. Lalu dengan perlahan ia melemparkannya ke dalam laut agar selamat dan hidup.

'Saya yakin usahaku sungguh memiliki arti yang besar sekurang-kurangnya bagi yang satu ini.' Kata si kecil itu. Kita Memang tidak bisa bermanfaat bagi dunia yang luas, tapi setidaknya kita bisa bermanfaat bagi orang di sekitar kita yang membutuhkan. Jadi kenapa kita tidak memulai berbauat seseutau yang berharga, mulai hari ini.

Karena satu hal yang kita lakukan dan bermanfaat bagi seseorang lebih berharga dari pada kita hanya berandai tangan.
READ MORE - Bintang laut

Biarkanlah Jiwa Kebaikan Bersemanyam dalam Diri Kita ...

Biarkanlah Jiwa Kebaikan Bersemanyam dalam Diri Kita ...


beberapa hari lalu Ketika saya ke Mall saya mencoba menarik ATM, dan saya antri pada urutun ke tiga, orang didepan saya, lupa menarik kartu ATM dengan menu yang masih terbuka, kalau saya berniat tidak baik, bisa saja saya kuras isi ATM tersebut. tetapi setelah saya selesai bertransaksi, saya kejar orang itu untuk mengembalikan ATMnya, Alhamdullilah hati saya ini masih bisa untuk berbuat kebaikan, dan tidak tergoda untuk berbuat jahat, karena sempat terlihat dilayar ATM nominal uang yang cukup besar, Terimakasih Ya tuhan telah memberi kesabaran untuk tidak berbuat jahat.

Disaat kita berkesempatan berbuat kebaikan kepada orang yang membutuhkan pertolongan, siapakah yang pertama-tama perlu berterima kasih? Orang itu kepada kita? Bukan! Justru kitalah kepada orang itu. Sebab dengan kita bisa melakukan kebaikan kepada sesama, itu berarti kita akan mendapat kesempatan menerima kebaikan dari TuhAN

Tak perlulah kita gundah untuk semua kebaikan yang kita lakukan meski sekuat tenaga kebaikan yang coba kita torehkan untuk orang lain tetapi orang lain tetap tak bergeming, curiga, bahkan menyudutkan dengan tuduhan bahwa seolah mereka mencium aroma kebusukan di balik semua tindakan yang kita lakukan. Risau dan gundah, buanglah jauh-jauh perasaan demikian. Bisa jadi mungkin orang tidak memahami dengan pasti kebaikan yang kita berikan, atau kemampuan atau sumber daya menerima untuk menerima kebaikan kita terbatas, atau bisa jadi memang itu memang sebuah ujian untuk kita hadapi dalam menaiki anak tangga ketulusan.

Janganlah banjirnya pujian membuat kita begitu terlena, atau sebaliknya janganlah pula kita berlama-lama dengan kecewaan yang mendera akibat penerimaan orang lain tidak seperti yang kita harapkan. Karena memang kita tak pernah mengukur sebuah ketulusan dan pamrih. Dan tentunya mendengar pujian adalah sebentuk pamrih juga yang semestinya tak diperlukan dalam sebuah ketulusan. Jelas bukan, putuskan ikatan
kekecewaan dari hati kita oleh cibiran dan hinaan orang lain yang terus mengganggu
niat baik yang keluar dari lubuk hati yang tulus. Biarkan hati kita mengalir butiran air kebaikan dalam keluasan samudera hati.

Berbuat baiklah terus seakan-akan kita tak menyadari sedang melakukan kebaikan. Semestinya memang kita tak perlu merasa baik, karena di saat kita merasakannya, kebaikan itu mengambil jarak dari kita. Ia menjadi sesuatu yang lain dari diri kita. Semestinya kebaikan menyatu dalam diri kita. Di saat mengasah sebuah pisau, takkan kita dapati ia menjadi tajam, hingga kita berhenti untuk merasakan

Di saat kita melakukan kebaikan,kita tak perlu berusaha untuk menyadarinya. Biarkan kebaikan mengalir begitu saja, karena hanya bila kita berhenti sajalah kita baru bisa merasakannya. Dan di saat berhenti, kebaikan itu bukan lagi milik kita. Di saat kita berusaha merasakannya, kebaikan itu sudah menjadi milik pisau.

Biarkan orang lain memperlakukan kita sikap atau cara apapun yang mungkin dapat saja begitu menyakitkan hati, biarkan kebaikan kita dihempaskan sedemikian rupa, karena memang mutiara tetaplah mutiara meski terletak di dasar lumpur pekat sekalipun. So, tak ada alasan kita menjadikan hati

nelangsa dan gundah gulana. Yang pasti dunia kita tidak akan segera berakhir hanya karena orang lain tak menyukai keberadaan dan segala kebaikan yang kita lakukan, bukan.

Perbuatan baik tidak akan pernah sia-sia. Perbuatan baik akan memberikan efek damai dalam hati. Berbuat baik bisa tertujukan bagi seseorang, kelompok orang, bahkan masyarakat. Berbuat baik juga bisa pada hewan, tumbuhan, alam dan Lingkungan sekitar. Orang berbuat baik tidak akan ada ruginya¡Ã„.. Dan suatu saat akan terpetik hasilnya.

jangan pernah berhenti untuk berbuat kebaikan, juga jangan pamrih, karena suatu saat kebaikan yg pernah kita berikan akan kembali lagi pada kita meskipun itu bukan dari orang yg kita bantu melainkan dari "tangan yg lain" dan pada waktu yang lain. dan dengan berbuat kebaikan kepada orang lain kita telah menabung pada rekening bank emosi kita. (EA)

"kebaikan dan ketulusan adalah dua sisi yang saling mengikat "

" tangan kiri tak perlu tahu kebaikan apapun yang diperbuat tangan kanan"

Depok 24 Maret 2007.
http://catatan-erwin.blogspot.com/
READ MORE - Biarkanlah Jiwa Kebaikan Bersemanyam dalam Diri Kita ...

Senin, 24 Mei 2010

Biarkanlah Jiwa Kebaikan Bersemanyam dalam Diri Kita ...

Biarkanlah Jiwa Kebaikan Bersemanyam dalam Diri Kita ...

Tak perlulah kita gundah untuk semua kebaikan yang kita lakukan meski sekuat tenaga kebaikan yang coba kita torehkan untuk orang lain tetapi orang lain tetap tak bergeming, curiga, bahkan menyudutkan dengan tuduhan bahwa seolah mereka mencium aroma kebusukan di balik semua tindakan yang kita lakukan. Risau dan gundah, buanglah jauh-jauh perasaan demikian. Bisa jadi mungkin orang tidak memahami dengan pasti kebaikan yang kita berikan, atau kemampuan atau sumber daya menerima untuk menerima kebaikan kita terbatas, atau bisa jadi memang itu memang sebuah ujian untuk kita hadapi dalam menaiki anak tangga ketulusan.

Janganlah banjirnya pujian membuat kita begitu terlena, atau sebaliknya janganlah pula kita berlama-lama dengan kecewaan yang mendera akibat penerimaan orang lain tidak seperti yang kita harapkan. Karena memang kita tak pernah mengukur sebuah ketulusan dan pamrih. Dan tentunya mendengar pujian adalah sebentuk pamrih juga yang semestinya takdiperlukan dalam sebuah ketulusan. Jelas bukan, putuskan ikatan kekecewaan dari hati kita oleh cibiran dan hinaan orang lain yang terus mengganggu niat baik yang keluar dari lubuk hati yang tulus. Biarkan hati kita mengalir butiran air kebaikan dalam keluasan samudera hati.

Berbuat baiklah terus seakan-akan kita tak menyadari sedang melakukan kebaikan. Semestinya memang kita tak perlu merasa baik, karena di saat kita merasakannya, kebaikan itu mengambil jarak dari kita. Ia menjadi sesuatu yang lain dari diri kita. Semestinya kebaikan menyatu dalam diri kita. Di saat mengasah sebuah pisau, takkan kita dapati ia menjadi tajam, hingga kita berhenti untuk merasakan ketajamannya. Di saat kita melakukan kebaikan, kita tak perlu berusaha untuk menyadarinya. Biarkan kebaikan mengalir begitu saja, karena hanya bila kita berhenti sajalah kita baru bisa merasakannya. Dan di saat berhenti, kebaikan itu bukan lagi milik kita. Di saat kitaberusaha merasakannya, kebaikan itu sudah menjadi milik pisau.

Biarkan orang lain memperlakukan kita sikap atau cara apapun yang mungkin dapat saja begitu menyakitkan hati, biarkan kebaikan kita dihempaskan sedemikian rupa, karena memang mutiara tetaplah mutiara meski terletak di dasar lumpur pekat sekalipun. So, tak ada alasan kita menjadikan hati nelangsa dan gundah gulana. Yang pasti dunia kita tidak akan segera berakhir hanya karena orang lain tak menyukai keberadaan dan segala kebaikan yang kita lakukan, bukan!

(Be inspired from one of my best friends who is so nice and kindness but
some people had done something very unfair to her. Keep smiling!)


--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Biarkanlah Jiwa Kebaikan Bersemanyam dalam Diri Kita ...

Selasa, 04 Mei 2010

Kenapa Harus Menikah? (persepektif Islam)

Kenapa Harus Menikah? (persepektif Islam)

Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa memotivasi kaum
muslimin untuk memeriahkan dunia dengan nikah.

1. Melengkapi agamanya
"Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan
hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR.
Thabrani dan Hakim).

2. Menjaga kehormatan diri
"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka
nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih
membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah
ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari,
Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia
"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan
sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau
suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang."
(Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no.
309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah
Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah,
orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami
shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa
bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Beliau bersabda, "Bukankah Allah
telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada
tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat
sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan
tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah
perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun
sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami
melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?" Beliau menjawab, "Bagaimana
menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram,
apakah dia akan mendapatkan dosa dengan
sebab perbuatannya itu?" (Mereka menjawab, "Ya, tentu." Beliau bersabda,)
"Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun
akan mendapatkan pahala." (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang
beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda,
"Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua raka'at Dhuha.") (Buku Adab
Az Zifaf Al Albani hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati

6. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik
"Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia
mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru
perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama
memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan
itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit
pun." (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan
kebaikan atau kejahatan.)

Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh
perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya?
Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek
bagi keluarganya?

8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya
dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan akan diganti oleh
Allah, ini janji Allah.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: "Satu dinar yang
kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan
budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu
nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar
yang kamu nafkahkan kepada keluargamu." (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab
Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata: Rasulullah
SAW bersabda: "Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang
kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan
dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah." (HR.
Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada
kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada
keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan
kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: 'Wahai
Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?" Beliau
menjawab dengan bersabda, "Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian
bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu
memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana
kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul
dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka." (Adab Az
Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada
bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: "Sesungguhnya apa saja
yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu
akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu." (HR.
Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin 'Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
"Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang harus
diberi belanja." (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi
nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya. " (Saba':
39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: "Setiap pagi ada dua
malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: "Ya Allah, berikanlah
ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya." Dan yang lain berdoa: "Ya Allah,
binasakanlah harta orang yang kikir." (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush
Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).


9. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut memelihara
anak yatim


Janji Allah berupa pertolongan- Nya bagi mereka yang menikah.
1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika
mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha
Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 32)
2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang
mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan
seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya. (HR. Ahmad 2: 251,
Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

- akhirnya saya bisa melaksanakannya -

--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Kenapa Harus Menikah? (persepektif Islam)

Strees...jangan deh..

Strees...jangan deh..

Dalam menajalani kehidupan sehari-hari rutinitas, dan harapan atau cita-cita yang tidak tercapai menimbulkan stress. "Saya Stress" begitulah banyak sahabat berkata kepada saya... kenapa stress.. pertanyaan yang sering saya ajukan kepada para sahabat. dan banyak jawaban dari kenapa stress adalah karena mereka tidaka dapat menyesuaikan diri dengan keadaan saat ini.

Stress bisa muncul dikarenakan beberapa hal, stress bisa muncul ketika sesorang memiliki cita-cita dan cita-cita yang didambakan tidak kunjung tiba, atau seseorang bisa stress karena kejadian masa depan yang tidak tercapai.

memang stress hanya muncul saat ada masalah, saat tidak ada masalah kita mungkin akan tenang-tenang saja. Begitu ada masalah yang mengancam bisnis kita atau kita mengalami kerugian besar atau terkena musibah maka stress akan mulai muncul. Stress akan bertambah saat investor mulai mempertanyakan uang yang mereka tanamkan kepada kita.

Atau saat karir kita dalam bekerja tidak mengalami peningkatan signifikan, saat kontribusi kita tidak dihargai, dan banyak hal lagi yang menyebabkan stress.

Inilah dinamika hidup. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa ada orang yang tidak memiliki cita-cita atau meraih pancapaian yang lebih tinggi. Mereka mungkin tidak mau menghadapi stress dan menghabiskan energi.

Namun seperti quantum, selalu memerlukan energi untuk pindah ke orbit yang lebih tinggi. Jika tidak, kita akan tetap seperti kita sekarang ini. Oleh karena kita, kita perlu memiliki suatu ketangguhan dalam menghadapi stress. Jangan sampai stress bisa menguasai diri kita dan bahkan menghancurkan diri kita. Ketangguhan itu hanya bisa muncul jika keimanan kita kuat. Setiap masalah dan konsekuensinya adalah dari Allah dan kita serahkan semuanya kepada Allah sambil kita tetap berusaha. Kita akan memiliki ketangguhan jiwa kita.

sesorang yang stress relatif tidak bisa menerima keadaan yang mereka hadapi saat ini, dan berusaha mengubah keadaan diluar kemampuan yang mereka miliki.

atau ketika stress itu datang, coba alihkan pikiran dengan berjalan keluar dari rutinitas yang ada, dengan refresshing atau bertamasya akan dapat meringankan stress yang ada, atau menyalurkan hobby yang dimiliki dengan merawat tanaman, binatang peliharaan, menulis, olah raga. dengan menyalurkan hobby dapat meringkan pikiran kita dan menghindari stress agar kita bisa berkarya dan menjalan kan hiudp dengan lebih baik.

dengan mendekat kan diri kepada tuhan, orang terdekat, keluarga, sahabat, kita bisa berbincang dan berbagi masalah yang ada, dengan berbagi perasaan yang ada kita juga dapat menghilangkan stress diri. memang kalau dipikir terlalau dalam hidup kadang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Dan stress dapat diminimalkan dengan selalu bersyukur, dan ikhlas dalam menerima apa yang diberi, dijalani dalam hidup. dengan ikhlas maka apapun yang kita terima tidak akan menjadi suatu masalah. dan kita bisa lebih tenang dalam menjalankan hidup ini. dan bisa menghilangkan stress adalah sebuah langkah awal menggapai mimpi.

" Ikhlas menjalani hidup akan menghindarkan anda dari stress "

" beribadah teratur, dekat dengan keluarga, Salurkan hobby adalah obat salah
satu cara menghilangkan stress "

Depok 07 November 2007


--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Strees...jangan deh..

Tetaplah semangat

Baru beberapa lalu saya sempat kaget dengan situasi yang tidak sesuai dengan harapan saya, sesuatu yang saya ingin capai, ada sedikit halangan. lantas sempat berfikir adakah suatu kesalahan dari cara yang saya lakukan, sempat menurunkan semangat, tetapi dengan keadaan ini hati saya tidak bisa trima untuk cepat menyerah, dan saya tetap berusaha mengulang untuk menggapainya, saya bersemangat untuk meraihnya. hasilnya sesuatu tersebut dapat saya
gapai, walau dengan sedikit tertatih.

Seringkali situasi berjalan tak sesuai kehendak. Atau mungkin meninggalkan anda. Mulai dari, patah Hati, promosi terhambat, usulan ditolak, hingga hal sepele: data komputer rusak. Semua itu bisa jadi mengecewakan dan getir.

Anda dipersilakan memilih sikap apa pun yang anda mau, namun jangan sampai kehilangan semangat. Saat anda memilih untuk tetap semangat dan positif, sesungguhnya pilihan itu tak banyak. Pertahankan semangatanda meski situasi sulit dan tidak memihak anda.

Percayalah, anda takkan sanggup kecewa selama dua puluh empat jam terus-menerus. Pada saatnya semangat anda menemukan harapan baru. Tetaplah optimis untuk mengerjakan segala sesuatunya. Kesulitan itu hanya sementara datang untuk pergi. Janganlah kehilangan antusiasme dan semangat, karena itulah pegangan yang kokoh. Semangat adalah milik anda yang hakiki.Bukankahsemangat adalah kata lain dari "semangat"? Sedangkan
"semangat" adalah roh dan jiwa anda. rasa lelah, capai, bisa hilang jika anda memiliki semangat.

Meraih sesuatu bukanlah hal yang terbatas pada pekerjaan tangan. Bila anda mau meraih dengan seluruh yang anda miliki, tidak ada hal yang tidak tercapai. bila tangan tidak bisa menggapainya, maka pikiran dapat mengusahakan dengan cara lain, seperti pemain sepak bola, saat kaki tidak bisa menggapai bola, maka dengan kepala pun gol dapat tercipta.

Bila tangan tidak bisa mendaptkan maka, Railah dengan kaki. Bila sesuatu saat ini tidak tergapai, bergeraklah, hingga hal itu dalam jangkauan. Bergeraklah menuju tujuan, ketimbang menunggu tujuan anda bergerak kepada anda. karena menunggu tidak akan menghasilkan apa-apa. Keep on fighting Spirit in your Soul.

Raihlah dengan pikiran. Visualisasikan tujuan anda. Lihatlah dengan jelas dalam pikiran anda, dan anda akan mulai bisa menggapai. Gunakan daya pikir anda untuk mengembangkan rencana realistis dan perencanaan tindakan.

Raihlah dengan imajinasi. Jadilah kreatif dalam menggapai. Selalu ada banyak cara dalam mencapai tiap tujuan. Gunakan imajinasi anda untuk bekerja dan mengembangkan segala peluang. Bila satu jalur terhalang, bayangkan selusin alternatif dan
ikuti yang paling berpeluang.

Memang untuk menggapai mimpi tidak lah selalu jalan yang lurus, terkadang jalan terjal, berliku akan kita terima. tetapi semangat adalah bahan bakar dalam menggapai semua mimpi/ enggapai kesuksesan. Jadi tetap lah bersemangat dalam menggapai mimpi kita. jangan pernah putus asa.

Raihlah dengan semangat. Rasakan kegembiraan pada setiap saat kehidupan dan anda akan mengembangkan dalam diri sendiri, kesadaran akan pemenuhan. Sedemikian banyak hal yang bisa anda raih bila anda secara tulus bersyukur atas hal-hal yang telah anda miliki.(EA)
11 Maret 2008

--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Tetaplah semangat

Pelajaran dari bocah penjual Koran

Pelajaran dari bocah penjual Koran

Pagi itu seperti biasa saya berangkat pagi setelah subuh dari rumah, ke tempat penyimpanan motor di bilangan cawang, uki, walau sering terlambat, kali ini saya datang labih awal ketempat menunggu bis antar jemput yang membawa saya ke kantor, saya menyukai naik bus jemputan karena lelah berkendara dari depok-cikarang. Tidak tahan kemacetan ibu kota.

Seperti biasa saya duduk bersama rekan rekan sambil menunggu jemputan. Tetapi karena saya datang lebih awal, munculah seorang bocah lelaki yang seperti biasa menawarkan Koran kepada semua penduduk shelter.

" Koran, Koran, Kompas, Media, tempo, republika, warta kota" begitu teriakbocah laki-laki tersebut menawarkan Koran kepada kami. "Koran bang" dia menawari ku untuk membeli Koran. "seperti biasa kompas satu" kataku meminta Koran yang biasa kubaca setiap pagi.

Tangan mungilnya dengan cekatan memilih Koran yang kuminta diantara tumpukan Koran dagangannya.

" ini bang Koran kompasnya" memberi Koran yang aku minta kepadanya, "nih ada kembaliaanya engga" kataku sambil menyodorkan uang Rp 50.000, kepadanya. "beres bang, pasti ada" segera dikeluarkan kembaliannya dari tas gembloknya yang kotor, "wah pagi-pagi uangnya dah banyak ya" kataku kepada bocah tersebut.


"Allhamdulilah bang, rejeki saya lagi lancar" katanya sambil tersenyum senang. Dan setelah itu diapun berlalu menawarkan Koran kepada para penghuni shelter lainnya.

Saat ini pukul 05.20, masih terlalu lama jemputan ku datang, maka saya menyempatkan membaca oran kompas yang tadi saya beli pada bocah tukang Koran tersebut.

Tanpa sadar saya memperhatikan betapa gigih seorang bocah tukang Koran tersbut mencari uang, dengan menawarkan daganganya kepada semua orang yang datang dan pergi silih beranti.

Sepintas tampak keringat membasahi wajahnya yang tegar dalam usia beliaya harus berjuang memperoleh uang secara halal dan sebagai pekerja keras.

" Koran, mba ada tabloid nova, ada berita selebritisnya nih mba, atau ini tabloid bintang, ada kabar artis bercerai" katanya bagai seorang marketing ulung tanpa menyerah dia menawarkan Koran kepada seorang wanita setengah baya yang pada akhirnya menyerah dan membeli satu tabloid yang disebut sang bocah tersebut.

Sambil memperhatikan terbersit rasa kagum dan rasa haru kepada bocah tersebut, dan memperhatikan betapa gigihnya dia berusaha, hanya tampak senyum ceria yang membuat semua orang yang ditawarinya tidak marah. Tidak terdapat sedikit pun rasa putus asa dalam dirinya, walaupun terkadang orang yang ditawarinya tidak membeli korannya.

Sesaat mungkin bocah tersebut lelah menawarkan korannya, dan dia terduduk disampingku, "kamu engga sekolah dik" tanyaku kepadanya "engga bang, saya tidak ingin sekolah tinggi-tinggi" katanya.

"engga ada biaya dik' tanyaku menyelidik, "Bukan bang, walau saya tukang Koran saya punya cita-cita" jawabnya, "maksudnya, kan dengan sekolah kamu bisa mewujudkan cita-cita kamu dengan lebih mudah" kataku menjawab.

"Aku sering baca Koran bang, banyak orang yang telah sekolah tinggi bahkan sarjana tidak bekerja bang, alias nganggur. Mending saya walau sekolah tidak tinggi saya punya penghasilan bang" katanya berusaha menjelaskan kepadaku.

"abang ku bang, tidak sekolah bisa buka agen Koran penghasilan sebulannya bisa 3-4 juta bang, saya baca di Koran gaji pegawai honorer Cuma 700ribu, jadi buat apa saya sekolah bang" tanyanya kepadaku

Saya mengerutkan kening, tertanda saya tekejut dengan jawaban bocah kecil tersebut pemikiran yang tajam, dan sebuah keritik yang dalam buat saya yang seorang sarjana. Dalam hati saya membenarkan perkataan anak tersebut, UMR kota bekasi saja +/-900rb untuk golongan smu.

Saya pun tersenyum mendengar jawaban anak tersebut, kemudian bus jenputan saya pun tiba dan saya meninggalkan bocah tersebut tanpa bisa menjawab pertanyaanya, apa tujuan kita sekolah, menjadi sarjana.?

Karena banyak sarjana sekarang yang begitu lepas kerja mengaggur, tidak punya penghasilan, dan banyak juga karena belum bisa bekerja yang melanjutkan S2 dengan alas an ingin mengisi waktu luang dan menambah nilai jual dirinya.

Tapi pernyataan bocah penjual Koran tersebut menyadarkan saya, tentang rejeki, dan tujuan dari bersekolah, yang saat ini saya mungkin kalah dengan bocah kecil tersebut, walau saya seorang yang mempunyai penghasilan dan mempunyai suatu jabatan saya hanyalah manusia gajian, saya hanya seorang buruh.

Beda dengan bocah kecil tersebut, dalam usia belia dia sudah bisa menjadi majikan untuk dirinya sendri. Sungguh hebat pemikiran lugu bocah penjual Koran tersebut. pembalajaran yang
menarik dari seorang bocah kecil yang setiap hari kutemui.(EA)

"Rizky Tuhan sungguh tidak terbatas, tinggal kemauan kita untuk dapat
berusaha menggapainYa"

"Pelajaran Dapat di peroleh tidak hanya di pendidikan formal, Dan dunia pun
banyak memberi pelajaran untuk kita"


Depok 12 September 2007 21:59


--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Pelajaran dari bocah penjual Koran

langkah Awal Menggapai mimpi

Perjalanan panjang pasti dimulai dengan Langkah awal. Semua kejadian, hal, kebiasaan, peristiwa, dan lain-lain, pasti bermula pada langkah awal yang telah kita perbuat. Dalam menentukan pilihan pun sebenarnya kita telah menentukan langkah awal dalam pilihan yang kita pilih. Karena ketika kita dihadapkan pada dua atau lebih piliha, pilihan-pilihan itu seakan-akan sedang menunggu Anda untuk menginjakan kaki di masing-masing pilihan tersebut.

langkah awal untuk menggapai mimpi adalah keinginan dari dalam diri untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik dan berani melakukan changes management untuk bisa terus beradaptasi dengan adanya perubahan di semua sektor diri.

awal dari langkah mewujudkan mimpi-mimpi itu adalah dengan memiliki sebuah pribadi yang baik. membuka mata hati demi sebuah cita-cita, melangkah pasti dengan usaha semaksimal mungkin, dan tetapkan satu pilihan untuk satu kemungkinan sebagai satu tujuan kehidupan kita, ingin rasanya memiliki segalanya dan semua anugrah dimana kita bisa melakoni jati diri kita sampai puas, senang bahagia hingga tuntas dan akhirnya kita harus pulang ke
kehidupan yang abadi nanti.

Dari hidup yang sekarang ini mari bersama-sama berjalan sedikit demi sedikit walaupun sudah berulang kali terjungkir balik, mari kita menentukan satu titik dan kita lakukan yang terbaik, kita ketatkan tekad dan niat agar bisa melesat sukses, dengan awal membangun pribadi diri kita sebagai dasarnya.

Dimana kita bisa menemukan pribadi diri kita jika kita bisa membuat diri sendiri berharga. Bagaimana kita untuk bisa menjadikan diri ini menjadi berharga ? yang pertama kita harus mengenali diri kita sendiri, Untuk mengenali diri kita sendiri ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan

* Merenung untuk apa kita dan semua manusia di muka bumi ini di ciptakan
* Mengenali potensi pada diri kita
* Menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita
* Berupaya menggunakan hati nurani kita sebagai pelita hidup
* Mampu melakukan instropeksi di setiap waktu
* Mampu menempatkan diri baik secara vertical ataupun horizontal

beberapa hal yang harus dilakuakan dalam menggapai mimpi

memiliki prinsip hidup yang kuat, dalam hal ini kita harus betul-betul memahami bahwa prinsip hidup itu penting, pasti orang hidup semua memiliki prinsip bukan?, dalam menentukan sebuah prinsip hidupkita kita harus memiliki pandangan bawasannya hidup baru bisa bermakna jika berharga bagi orang lain dan diri kita, dan tidak lupa pula bahwa tanpa campurtangan tuhan YME kita tidak bisa berbuat apa-apa, juga berusaha mendapatkan rejeki yang halal, tanpa di lupakan kita harus bisa menjadi manusia yang mudah memberimaaf.

memiliki pribadi yang menarik, dimana kita bisa menghargai orang lain dalam hal apapun termasuk pendapat, berpenampilan yang menarik, mampu menampilkan kesan pertama yang baik itu juga sangat penting, point ini juga penting yaitu tidak terlalu merendahkan diri di depan siapapun dan tetap menjaga sopan santun.

jujur dan mampu menyikapi segala perubahan secara positif, jujur pastinya semua sudah tau kan ? jujur itu adalah modal awal kita untuk meraih mimpi serta pribadi sukses kita , perubahan selalu ada yang positif dan negative dan setiap perubahan itu tidak akan memuaskan semua pihak, kuncinya bagaimana menyikapi segala perubahan tersebut adalah secara positif pasti
akan membawa kebahagian hidup dan sebaliknya negative tentu akan membawa sengsara kali ya ? .

berani mengambil resiko, hidup ini penuh dengan resiko kegagalan adalah awal dari kesuksesan, kita perlu sekali menghilangkan rasa takut terhadap kegagalan itu, hadapi resiko dengan penuh perhitungan dan pertimbangan, untuk meminimalkan resiko kita hendaknya bisa merencanakan kegiatan dengan cermat karena tidak ada kegiatan yang tidakmengandung resiko, maka jika
ingin maju hadapilah resiko, karena orang yang tidak pernah gagal adalah orang yang tidak pernah berbuat sesuatu atau tidak pernah mau ambil resiko

Dan yang terahir adalah menjaga kesetabilan semangat kerja. Potensi diri seseorang baru akan bisa di rubah menjadi karya jika di sertai semangat yang tinggi untuk menjaga kestabilan tersebut kita harus mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi perasaan kita, menurut saya kekecewaan seseorang adalah factor utama yang bisa menurunkan semangat kerja, dan semangat kerja harus muncul dari dalam diri kita secara continyu, niat kerja untuk ibadah,
mengelola rasa kecewa, ingin bermanfaat bagi orang lain, dan menyeimbangkan hak dan kewajiban adalah point-point untuk mempertahankan semangat kerjakita.

Dari kepribadian di atas bisa kita terapkan untuk Langkah awal menggapai mimpi tersebut, dan juga tidak lupa bahwa sebenarnya banyak cara untuk kita menggapai impian kita. Setelah kita memiliki pribadi yang semangat selanjutnya kita tinggal melangkah menggapai mimpi kita, janganlah puas atau berbangga hati setelah memiliki segalanya kita terus mencari tepuk tangan
atas karya keringat anda, karena itu akan membuat anda menjadi ponggah atau
sombong

"langkah awal adalah penentu berhasil tidaknya langkah selanjutnya"

"lebarkan sayap dan terbanglah yang tinggi, Gapailah mimpi"

4 Maret 2008


--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - langkah Awal Menggapai mimpi

Ketika mengejar permainan dunia

Ketika mengejar permainan dunia

HARTA, pangkat, nama untuk memperoleh status sosial merupakan sesuatu yang selalu dicari oleh umat manusia di dunia ini. Status itu bukanlah tujuan tetapi media untuk menegakkan kebenaran, kesucian dan keharmonisan. Harta dicari sebagai alat. Bagaikan perahu menggunakan air sebagai alat untuk bisa berlayar. Tanpa air perahu tidak mungkin bisa berlayar. Perahu berlayar bukan mencari air tetapi menuju pantai bahagia. Kalau perahu salah caranya berlayar di air maka air akan menenggelamkan perahu tersebut.

Demikian jugalah halnya dengan harta, nama, pangkat dan status. Semuanya itu penting untuk dicari sesuai dengan peluang yang ada dan kemampuan masing-masing. Tanpa sarana harta benda manusia tidak akan bisa hidup di dunia ini. Namun yang wajib diperhatikan, semuanya itu adalah sarana bukan tujuan yang permanen.

Demikian juga pangkat dan jabatan adalah kepercayaan untuk didaya gunakan dalam melayani masyarakat, bukan untuk dibangga-banggakan untuk menunjukan
egoisme. Pangkat dan jabatan sebagai media untuk berbuat jasa melakukan
pelayanan. Itu juga sarana yang sifatnya sementara bukan tujuan. Kalau itu
dianggap sebagai tujuan maka bisa menjebak dan mengikat kita. Kalau sudah
terikat kita sudah kehilangan kemerdekaan diri. Orang akan bersedih kalau
tidak menjabat atau
kehilangan jabatan.

Mengabdi pada sesama, menegakkan kebenaran tidak harus melalui jabatan
formal. Itu bisa dilakukan dengan banyak cara tanpa melalui jabatan dan
pangkat. Sepanjang tujuannya mulia dan cara melakukannya baik, itu juga akan
dapat mencapai hasil yang diharapkan dalam pengabdian.

Harta, nama, pangkat dan status, dinamikanya sangat fluktuatif. Kalau itu
dianggap sebagai tujuan maka hidup kita akan terombang ambing mengikuti
pasang surutnya harta, nama, pangkat dan status tersebut. Itu akan dapat
membuat tajamnya suka dan duka.

Hidup dalam gelombang suka duka yang dalam itulah penderitaan. Semakin
tinggi gelombang suka yang dirasakan maka semakin tinggi pula ancaman duka
yang menghadang. Kalau harta, pangkat, jabatan maupun status itu tidak
dicapai atau hilang maka penderitaan pun akan menjadi-jadi. Artinya, harta,
pangkat, maupun jabatan harus diperhatikan agar jangan sampai mengikat dan
menjebak kita.
Seolah-olah hal itu sebagai tujuan yang paling mutlak. Hal itu ibarat
pakaian yang akan cepat usang dan hilang.

Seimbang dan teguhlah menghadapi gejolak suka dan duka. Untuk mencapai
keadaan diri seperti itulah yang harus diperjuangkan terus dengan melakukan
pendidikan dan latihan pemahaman ajaran agama.

Jadi kebahagiaan adalah kemampuan untuk berada di atas jeratan suka dan
duka. Jangan biarkan diri dijajah oleh perasaan suka dan duka. Suka duka
akan silih berganti menghampiri setiap insan di bumi ini. Manusia pun tidak
ada yang kuasa menolak datangnya suka dan duka. Yang penting datang dan
perginya tidak membawa pengaruh buruk yang menekan kehidupan kita. Karena
orang disebut mencapai keadaan yang merdeka kalau ia tidak sombong karena
kaya, pintar, tampan, berkuasa, bangsawan maupun muda. Ini artinya semuanya
itu penting dicari dalam kehidupan ini tetapi bukan sebagai hal yang membawa
kita berada di bawah jajahannya.

Memiliki harta, pangkat, jabatan dan status adalah peluang yang diberikan
oleh Tuhan untuk mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari ini. dan saat ini
kita lebih sering untuk menjadi kan Harta, pangkat, jabatan sebagi tujuan
utama dalam hidup, walau kadang kita mendapatkan dengan cara yang diluar
kebiasaan, dengan korupsi, menjatuhkan teman, dan kita tidak peduli dengan
norma-norma yang ada. Apakah kita termaksud di dalam manusia yang mengejar
harta, jabatan, nama, atau status, semoga kita bukan manusia seperti itu.

"Sesaat terperangah dengan permainan dunia, dan ketika berfikir semua itu
hanyalah semu"(EA)

~= Depok, february 2008 =~


--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Ketika mengejar permainan dunia

Kisah seekor monyet

Seekor anak monyet bersiap-siap hendak melakukan perjalanan jauh. Ia merasa sudah bosan dengan hutan tempat hidupnya sekarang. Ia mendengar bahwa di bagian lain dunia ini ada tempat yang disebut "hutan" di mana ia berpikir akan mendapatkan tempat yang lebih "baik". "Aku akan mencari kehidupan yang lebih baik!" katanya. Orangtua si Monyet, meskipun bersedih, melepaskan kepergiannya. "Biarlah ia belajar untuk kehidupannya sendiri," kata sang Ayah kepada sang Ibu dengan bijak.

Maka pergilah si Anak Monyet itu mencari "hutan" yang ia gambarkan sebagai tempat hidup kaum Monyet yang lebih baik. Sementara kedua orangtuanya tetap tinggal di hutan itu.

Waktu terus berlalu, sampai suatu ketika, si Anak Monyet itu secara mengejutkan kembali ke orangtuanya. Tentu kedatangan anak semata wayang itu disambut gembira orangtuanya.

Sambil berpelukan, si Anak Monyet berkata, "Ayah, Ibu, aku tidak menemukan hutan seperti yang aku angan-angankan. Semua binatang yang aku temui selalu keheranan setiap aku menceritakan bahwa aku akan bergi ke sebuah tempat yang lebih baik bagi semua binatang yang bernama hutan." "Malah, mereka mentertawakanku." sambungnya sedih.

Sang Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengarkan si Anak Monyet itu. "Sampai aku bertemu dengan Gajah yang bijaksana," lanjutnya, "Ia mengatakanbahwa sebenarnya apa yang aku cari dan sebut sebagai hutan itu adalah hutan yang kita tinggali ini!.
Kamu sudah mendapatkan dan tinggal di hutan itu!" Benar, anakku. Kadang-kadang kita memang berpikir tentang hal-hal yang jauh, padahal apa yang dimaksud itu sebenarnya sudah ada di depan mata."

Kita semua adalah si Anak Monyet itu. Hal-hal sederhana, hal-hal ada di sekitar kita tidak kita perhatikan. Justru kita melihat hal yang "jauh-jauh" yang pada dasarnya sudah di depan mata. Kita gelisah dengan karir pekerjaan, kita gelisah dengan sekolah anak-anak, kita gelisah dengan segala rencana kehidupan kita. Padahal, yang pekerjaan kita sekarang adalah bagian dari karir kita. Padahal, anak-anak kita bersekolah sekarang adalah bagian dari proses pendidikan mereka dan hidup yang kita jalani adalah bagian dari rangkaian kehidupan kita ke masa yang akan datang.

Tanpa mengecilkan arti masa depan dan sesuatu yang lebih baik, ada baiknya apabila kita fokus dengan apa yang ada di depan mata, apa yang kita kerjakan sekarang, karena hal ini akan berpengaruh terhadap masa depan Anda. Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku."

Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek. Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"

Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku. Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar- benar"hidup". Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku
dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting."

Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu."

Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?" Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu
selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."

Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan... Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan... Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka
berarti.

"Masa depan Anda, karir Anda, serta kehidupan Anda adalah yang Anda kerjakan
hari ini."
Fri Feb 29, 2008 1:40 am

--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Kisah seekor monyet

pelajaran hidup di Stasiun Jatinegara

Ketika pulang tugas audit dari surabaya Kereta Argo angrek yang saya tumpangi dari Stasiun Pasar turi surabay perlahan-lahan memasuki stasiun Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat sudah bersiap-siap di depan pintu, karena sudah di jemput oleh keluarga. suasana jatinegara penuh sesak seperti biasa.

Sementara itu, dari jendela, saya lihat beberapa orang porter/buruh angkut berlomba lebih dulu masuk ke kereta yang masih melaju. Mereka berpacu dengan kereta, persis dengan kehidupan mereka yang terus berpacu dengan tekanan kehidupan kota Jakarta. Saat kereta benar-benar berhenti, kesibukan penumpang yang turun dan porter yang berebut menawarkan jasa kian kental terasa. Sementara di luar kereta saya lihat kesibukan kaum urban yang akan menggunakan kereta. Mereka kebanyakan berdiri,karena fasilitas tempat duduk kurang memadai. Sebuah lagu lama PT. KAI yang selalu dan selalu diputar dengan setia.

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil membuyarkan keasyikan saya mengamati perilaku orang-orang di Jatinegara. Saya lihat seorang bocah berumur sekitar 10 tahun berdiri disamping saya. Kondisi fisiknya menggambarkan tekanan kehidupan yang berat baginya.
Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan robek-robek disana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi. "Ya?" Tanya saya kepada anak itu karena saya tadi konsentrasi saya melihat orang-orang di luar kereta. "Maaf, apakah air minum itu
sudah tidak bapak butuhkan ?" katanya dengan penuh sopan sambil jarinya menunjuk air minum di atas tempat makanan dan minum samping jendela.

Pandangan saya segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum dalam kemasan gelas dari katering kereta yang tidak saya minum. Saya bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengan air itu. Semalam saya hanya minta air minum dalam kemasan gelas untuk jaga-jaga dan menolak nasi yang diberikan oleh pramugara. Perut saya sudah cukup terisi dengan makan di rumah.

"Tidak. Mau ? Nih..." kata saya sambil memberikan air minum kemasan gelas kepada bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.

Beberapa menit kemudian, saya lihat dari balik jendela kereta, bocah tadi berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa tas kresek di tangannya. Ke empat anak itu kemudian duduk melingkar dilantai emplasemen. Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan lantai yang terlihat kotor. Masing- masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing.

Setelah saya perhatikan, rupanya isinya adalah "harta karun" yang mereka temukan di atas kereta. Saya lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga separuh; sisa nasi catering kereta, dan air minum dalam kemasan gelas !

Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi "harta karun" temuan mereka dari kereta. Saya lihat bocah paling besar menciumi nasi bekas catering kereta untuk memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan, kotak nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa tersebut juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil mengangkat tinggi-
tinggi sepotong paha ayam goreng. Saya lihat, paha ayam goreng itu sudah
tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang.

Tapi si bocah tidak peduli, dengan lahap paha ayam itu dimakannya. Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap. Sungguh, sebuah "pesta" yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan gelas !

Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun. Saya lihat sendiri persis di depan mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari itu. Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri.

Cita-cita ?
Masa Depan ? Lebih absurd lagi.

Bagi saya pribadi, pelajaran berharga yang saya petik adalah, bahwa saya harus makin pandai bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Dan tidak lagi memandang sepele hal yang nampak sepele, seperti misalnya: air minum kemasan gelas. Karena bisa jadi sesuatu yang bagi kita sepele, bagi orang lain sangat berarti.


--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - pelajaran hidup di Stasiun Jatinegara

Menikmati Sakit

Menikmati Sakit


"Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan Dia telah menurunkan obatnya."

Sahabat ?
Ketika kepala kita mulai terasa pening, badan terasa ngilu "nggreges", dan hawa panas mulai merasuki tubuh kita. Seketika, aktivitas kita pun terganggu. Ia memaksa kita beristirahat sejenak. Bila setelah minum obat dari warung pinggiran rumah tak juga sembuh, bahkan larut hingga berhari-hari, mungkin rasa khawatir terkena penyakit Malaria atau Demam Berdarah
pun segera muncul dalam benak kita. Kita pun mulai ribut mempersiapkan diri berkunjung ke rumah sakit. Rasa tegang bisa saja muncul, apalagi berita kematian akibat penyakit itu sedang hangat mewarnai kehidupan keseharian kita.

Sahabat ?
Betapa rasa repot, tegang, takut dan segala rasa, bercampur aduk merasuki hati kita saat ujian sakit menimpa diri atau keluarga kita. Belum lagi saat menghadapi vonis dokter yang kadang lebih menakutkan daripada vonis hakim. Bagaimana kalau kita divonis kanker, HIV, AIDS, dan penyakit mematikan lainnya? Kalau boleh memilih, tentu kita akan memilih sehat. Karena kegembiraan hati ketika sehat adalah sunnatullah.

Sahabat?
Tidaklah Allah menciptakan sesuatu secara sia-sia. Pasti ada beribu hikmah di balik segala yang terjadi pada diri kita, atau lingkungan kita. Tapi, apa hikmah dibalik penyakit yang Allah timpakan kepada manusia?
Adzabkah?

Pertama, sehat adalah ujian kesabaran. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Sangat menakjubkan urusan orang-orang Mukmin itu. Mereka menerima semua persoalan hidup sebagai kebaikan baginya. Apabila kegembiraan yang diterimanya ia akan bersyukur dan itu
adalah kebaikan baginya. Dan apabila kepedihan yang diterimanya maka ia bersabar dan itupun merupakan kebaikan pula baginya."(HR.Muslim).

Hadits di atas menjelaskan bahwa yang dituntut dari kebaikan adalah syukur, sedangkan yang dituntut dari kesulitan adalah sabar. Karena kesyukuran adalah tanda keimanan, dan kedurhakaan adalah tanda kekufuran.

Kedua, sakit adalah penggugur dosa-dosa hamba-Nya. Penyakit yang diderita seorang hamba menjadi sebab diampuninya dosa yang telah dilakukan termasuk dosa-dosa setiap anggota tubuh. Rasulullah Saw bersabda, "Setiap getaran pembuluh darah dan mata adalah karena dosa. Sedangkan yang dihilangkan Allah dari perbuatan itu lebih banyak lagi."(HR. Tabrani).

Ketiga, Orang sakit yang mau bersabar akan mendapatkan pahala dan ditulis untuknya bermacam-macam kebaikan dan ditinggikan derajatnya. Rasulullah Muhammad Saw
bersabda, "Tiadalah tertusuk duri atau benda yang lebih kecil dari itu pada seorang Muslim, kecuali akan ditetapkan untuknya satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan." (HR.Muslim dari Aisyah ra).

Keempat, masih bagi pengidap sakit yang sabar, selain mendapat pahala, ia akan mendapati jalan menuju surga yang terbuka lebar.

Kelima, sebagai timbal baliknya, ia akan selamat dari siksa neraka. "Aisyah Ummul Mukminin menerangkan sabda Rasulullah Saw bahwasannya sakit karena demam itu akan menghindarkan orang Mukmin dari siksa api neraka." (HR. Al-Bazzar)

Keenam, selalu ingat pada Allah. Dalam kondisi sakit akan membuat orang merasa benar-benar lemah, tidak berdaya sehingga ia akan bersungguh-sungguh memohon perlindungan kepada Allah Swt., Dzat yang mungkin telah ia lalaikan selama ini. Kepasrahan ini pula yang
menuntunnya untuk bertobat.

Ketujuh, selalu mengingat nikmat Allah. Sakit membuat orang tahu manfaat sehat. Tidak jarang orang merasakan nikmat justru ketika sakit. Begitu banyak nikmat Allah yang selama ini lalai untuk ia syukuri. Bagi orang yang banyak bersyukur dalam sakit, ia akan memperoleh
nikmat.

Kedelapan, pembersihan hati dari penyakit. Pendapat Ibnu Qayyim, "Kalau manusia itu tidak pernah mendapat cobaan dengan sakit dan pedih, maka ia akan menjadi manusia ujub dan takabur. Hatinya menjadi kasar dan jiwanya beku. Karenanya, musibah dalam bentuk apapun
adalah rahmat Allah yang disiramkan kepadanya. Akan membersihkan karatan jiwanya dan menyucikan ibadahnya. Itulah obat dan penawar kehidupan yang diberikan Allah
untuk setiap orang beriman. Ketika ia menjadi bersih dan suci karena penyakitnya, maka martabatnya diangkat dan jiwanya dimuliakan. Pahalanya pun berlimpah-limpah
apabila penyakit yang menimpa dirinya diterimanya dengan sabar dan ridha."

Sahabat?
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang Allah hamparkan ke hadapan kita, baik pahit maupun manis. Amin. (Dirangkum dari buku "Kado untuk Orang Sakit", karya
Abdullah bin Ali Al-Ju'aisin/Indah)


--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Menikmati Sakit

Sebuah perenungan

Kita memiliki gedung-gedung
yang lebih tinggi, tetapi semakin rendah ketahanan kita akan amarah.

Kita membangun banyak jalan-jalan yang besar, tapi wawasan kita
semakin sempit.

Kita banyak menghabiskan uang, tapi semakin sedikit apa yang kita
punya.

Banyak membeli, tetapi semakin sedikit yang bisa kita nikmati.

Rumah-rumah kita bertambah besar, akan tetapi keluarga kita
semakin kecil.

Rumah yang semakin nyaman, akan tetapi semakin sedikit
waktu yang kita miliki untuk menikmatinya.

Kita memiliki semakin banyak
gelar, tetapi semakin sempit akal, semakin banyak pengetahuan--tetapi
semakin sedikit penilaian akan yang baik dan salah.

Semakin banyak ahli,akan tetapi semakin banyak pula masalah, semakin
banyak ditemukan obat, tetapi semakin berkurang kesehatan.

Kita terlalu banyak minum, terlalu banyak merokok, ceroboh, terlalu
jarang tertawa, mengemudi terlalu cepat, semakin kerap marah, susah
tidur, bangun dalam keadaan yang terlalu penat, terlalu sedikit
membaca, terlalu banyak menonton televisi, dan angat jarang
berdoa.

Kita telah melipatgandakan keinginan, akan tetapi mengurangi
nilai-nilai diri kita.

Terlalu banyak berbicara, terlalu sedikit mencinta
dan terlalu sering membenci.

Kita telah belajar bagaimana mencari nafkah,
tapi tidak mencari hidup.

Kita telah mampu menambahkan tahun-tahun dalam
kehidupan kita, tetapi gagal membawa kehidupan dalam tahun-tahun
hidup kita.

Kita telah mampu ulang-alik ke Bulan, tapi bermasalah untuk
menyeberang jalan menyapa tetangga kita.

Kita telah menaklukkan ruang angkasa, tapi tidak mampu menaklukkan
diri.

Kita telah melakukan hal-hal yang lebih besar, tetapi gagal
melakukan hal-hal yang lebih baik.

Kita telah membersihkan udara, tetapi jiwa kita penuh polusi.

Kita telah menaklukkan atom, akan tetapi tidak mampu menaklukkan
prasangka buruk.

Kita banyak menulis, tetapi sedikit belajar.

Kita banyak berencana, tetapi sedikit menggapai.

Kita belajar untuk mengejar, tetapi tidak menunggu.

Kita membuat banyak komputer untuk menampung informasi,
untuk menghasilkan lebih banyak penggandaan, tetapi kita semakin
sedikit berkomunikasi.

Inilah zaman-nya makanan cepat saji dan pencernaan yang lambat,
manusia-manusia yang lebih besar fisiknya, tapi kerdil karakternya.

Keuntungan yang menanjak dan relasi yang rapuh.

Inilah masa pendapatan yang berganda tetapi perceraian bertambah.

Rumah-rumah yang semakin elok, tetapi keluarga yang berantakan.
Inilah kalanya perjalanan yang semakin singkat, pakaian sekali
pakai, moralitas yang terbuang, hubungan satu malam, kelebihan berat
badan, dan pil-pil yang dapat melakukan segalanya; membuat gembira,
menenangkan dan sekaligus, membunuh!

Inilah waktunya ketika banyak hal yang dipamerkan dan semakin sedikit
yang disimpan.

Zaman teknologi yang dapat membawa surat ini kepada Anda,
dan waktu yang memberikan pilihan pada Anda untuk membagikan
perenungan ini, atau justru menghapusnya.

Ingatlah untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang
yang Anda kasihi, karena mereka tidak akan berada di sisi Anda
selamanya.

Ingatlah untuk berkata-kata yang baik pada orang
yang mengagumi Anda, karena ia suatu saat akan bertambah besar dan
meninggalkan Anda.

Ingatlah untuk memberikan pelukan yang hangat pada
orang di samping Anda, karena itulah hal berharga yang dapat Anda
berikan dengan sepenuh hati tanpa harus mengeluarkan biaya.
Ingatlah untuk berkata, "Aku menyayangimu" pada orang-orang yang kamu kasihi
dengan tulus.
Katakanlah itu dengan sepenuh hati dan arti. Sebuah kecupan dan
pelukan akan mengobati hati yang luka ketika ia datang dari lubuk hati Anda.

Ingatlah untuk menggenggam tangan dan menikmati saat-saat
bersamanya, karena suatu saat ia tak akan ada bersama Anda lagi.
Berikan waktu Anda untuk mengasihi, mencintai, berikan waktumu untuk
berkata-kata, dan berikan waktu Anda untuk membagikan pikiran-
pikiran yang berharga.

Hidup tidak diukur dengan jumlah hembusan nafas yang kita ambil,
Tetapi hidup diukur oleh saat-saat terakhir hembusan nafas kita


--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Sebuah perenungan

Tanggal muda bergelimangan Hutang

Tanggal muda bergelimangan Hutang

Minggu-minggu ini adalah "Tanggal muda" bagi beberapa orang, saya mempunyai seorang sahabat dan kami berbincang mengenai tunggakan dia terhadap kartu kridit yang sangat banyak sekali. sekitar Rp 60 jt rupiah pada 10 bank penerbit kartu kredit. sunggauh angka yang fantastik berarti dia mempunyai hutang Rp 6 juta per penerbit kartu kredit. dan dengan minimal pembayaran 5 juta/bulan untuk total 10 keseluruhan kartu kredit yang dimiliki.

Ternyata pendapatan dia hanya sekitar Rp 3 juta rupiah perbulan. wow saya pun tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut dengan sahabat saya, untuk mengetahui mengapa ia sampai bisa melakukan hal seperti itu, sahabat pun menjelaskan, bahwa ia sampai melakukan peminjaman melalui kartu kredit karena keinginan untuk di hargai, atau memiliki status orang yang berpunya atau "orang kaya", agar lebih dihargai.

Suatu penjelasan yang sangat sering saya dengar, dewasa ini kita melihat masyarakat kita cenderung konsumtif, hal ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang mendorong masyarakat seperti itu, dan hal ini atau tingkat konsumtif ini dijadikan pemerintah sebagai pendorong atau meningkatnya pertumbuhan ekonomi bangsa indonesia.

PErnah saya alami sendiri, ketika saya berkunjung ke suatu Mall atau pertokoan, ketika saya membawa kendaraan mobil dan berpenampilan menarik, walaupun saya tidak membawa uang yang cukup, saya pun dihargai, mendapat tempat dan pelayanan yang lebih baik, berbeda saat saya berjalan kaki atau memakai pakaian santai ketika ke pusat pertokoan saya terkadang diacuhkan walau saya membawa dana yang cukup.

Begitulah kenyataan hidup saat ini seakan kemewahaan hidup merupakan suatu tuntutan hidup yang harus dilakukan. hampir semua orang berlomba-lomba untuk disebut atau menyandang status "kaya" walaupun sebenarnya mereka belum mampu dengan keadaan tersebut, sehingga mendorong kita untuk memiliki hutang yang banyak.

Mana yang Anda pilih: Terlihat seperti orang kaya atau menjadi orang kaya? Kebanyakan orang memilih untuk "terlihat" seperti orang kaya. Mereka mengendarai mobil mewah, tinggal di rumah mewah, dan terlihat menjejali tempat-tempat yang sering dikunjungi orang-orang "kaya", walaupun sebenarnya mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai gaya hidup mewah mereka. Hasilnya: mereka banyak berhutang, dan hidup dari bulan ke bulan dengan strategi gali lubang tutup lubang. Bagi mereka, gaji atau pendapatan yang mereka terima tidak pernah cukup untuk menutupi kebutuhan mereka akan gaya hidup mewah.

Kecenderuangan hasil diskusi dengan beberapa sahabat, mereka merasa lebih percaya diri jika menggunakan assesoris yang mahal, jam tangan yang mahal, HP keluaran mutakhir, baju bermerek buatan desain terkenal, Parfum mewah, kendaraan model terbaru. Assesoris hidup itu membuat mereka sangat percaya diri. terkadang saya suka berdiskusi menddalam, dan kesimpulan mereka yang percaya diri karena assesoris mewah, memiliki rasa percaya diri yang rendah,kerena ketika mereka tidak menggunakannya mereka tidak lah percaya diri lagi, saya lebih menghargai orang yang bisa memberi kesan yang mendalam/kepribadian yang menarik, dibanding orang yang memiliki atau memamerkan assoris yang berlebihan.

Maaf, terkadang saya merasa iba dengan sahabat-sahabat saya yang terjerumus dalam paham materealisme dan konsumptif, karena mereka sebenarnya rapuh secara finansial, begitu terpaan badai financial datang, mereka tidak memiliki daya tahan yang optimal. dan mereka pun hidup dalam ketakutan, atas tagihan hutang dari para collector kartu kredit/bank pemberi pinjaman.

Hal ini juga tidak lepas dari pengaruh pergeseran budaya yang ada, sering kita lihat, sinetron dimana selalu ditampilkan kemewahan yang luar biasa, dan karena itu banyak masyarakat yang bermimpi untuk memilikikinya. Atau gaya selebritas yang di tunjukan oleh artis/selebritis kita yang mengumbar kekayaan, atau dengnan bangga memperlihatkan/memamerkan kekayaan yang di milikinya, dengan mobil-mobil mewah, perhiasan yang luar biasa, pergaulan yang makan dana tidak sedikit, nongkrong di kafe, discotek, atau hal lainnya. dan karena hal-hal, di tambah dengan iklan yang gencar yang selalu menemani kita setiap hari dari televisi, koran, internet dan media lainya yang menyerang pikiran kita secara continue sehingga perlahan tapi pasti
kita semakin mengikuti budaya tersebut dan memaklumi budaya yang telah bergeser.

Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan barang yang biasa-biasa, dapat dipastikan hidup pun akan lebih ringan. Mulailah dengan membeli sesuatu hanya karena perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu! Misalnya, ketika tersirat ingin membeli kendaraan baru, tanyakan; perlukah kita membeli Kendaraan baru? Sudah wajibkah kita membelinya? Jika alasannya logis, maka kalaupun jadi membeli, pilihlah yang skalanya paling irit, paling hemat, dan paling mudah perawatannya. Jangan berpikir dulu tentang keren atau mereknya. Mending keren tapi menderita atau irit tapi lancar?

Jika kita memilih untuk mau hidup cukup (hidup di rumah yang lebih kecil, tetapi milik sendiri, daripada rumah mewah, tapi sewaan; naik mobil lebih sederhana, tetapi tidak menggeragoti tabungan daripada naik mobil mewah yang membuat kantong kempes dan hutang menjulang), banyak yang bisa mereka hemat. Uang yang dihemat bisa dialokasikan untuk membuat hidup mereka lebih berarti dan masa tua mereka lebih tenang.

Tahanlah keinginan untuk berlaku boros dengan sekuat tenaga, yakinlah makin kita bisa mengendalikan keinginan kita, kita akan makin terpelihara dari sikap boros. Sebaliknya, jika tidak dapat kita kendalikan, maka pastilah kita akan disiksa oleh barang-barang kita sendiri, yang harus bermerek. dan apakah kita mau menjadi budak materi, kita bekerja keras hanya untuk mengejar "status kaya", yang kenyataannya membuat kita terjelembab dalam Penderitaan atas hutang.

hanya sekedar pendapat saya, bahwa Orang yang kaya itu bukan yang banyak uangnya tetapi orang yang sedikit kebutuhannya. Ketahuilah orang yang tidak bersahaja dalam hidupnya akan sangat banyak pula kebutuhan dan pengeluarannya, akibatnya biaya untuk sedekah menjadi sedikit, biaya untuk menabung menjadi terbatas. Yang dia lakukan erus-menerus memuaskan dirinya dengan mengganti perhiasan, mengganti mobil, ataupun mengganti sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Sebenarnya tidak dilarang untuk menggganti rumah, tapi alangkah baiknya untuk kita tabungkan, atau investasikan yang akan menjaga kita dari terpaan badai kesulitan yang tidak bisa prediksi.

Tapi dalam tulisan ini saya hanya bisa mengingatkan kepada para sahabat, hidup dengan gaya sederhana adalah lebih baik, jika anda tetap merasa nyaman untuk hidup dengan gaya mewah itu adalah pilihan anda, tetapi di balik pilihan pasti ada resiko.... maukah anda hidup dengan gaya kaya, tetapi bergelimpangan Hutang....? Semua kembali kepada anda lagi. Gaya hidup apa yang akan anda pilih... karena keingin untuk membeli tak akan pernah habis, mampukah sumber daya kita untuk menunjang... atau kita puas dengan Besarnya Hutang yang kita miliki... (EA)
Depok, 25 February 2008
Erwin Arianto
http://catatan-erwin.blogspot.com/

--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
READ MORE - Tanggal muda bergelimangan Hutang