Rabu, 15 November 2017

Pola Boneka Danbo 1


Harga BONEKA DANBO yang asli cukup Malah Harganya. lebih baikkan buat sendiri dan melatih kreatifitas diri kita ,, oleh karena itu Akram Berbagi membuat artikel ini untuk sobat semua !!
untuk membuat Danbo cara nya mudah tinggal Simpan gambar di bawah ini ke Komputer / Laptop Sobat , lalu print lah gambar tersebut, dan langkah terakhir gunting menurut seketsa yang ada pada gambar .

Sedikit Pengertian  Tentang Boneka Danbo 

"DANBO adalah kependekan dari Danboard, dibuat dari kertas karton board. Boneka ini adalah kreasi dari Azuma Kiyohiko seorang komikus serial manga Yotsuba. Bentuk boneka ini sangat unik, yaitu action figure dengan penampilan seperti manusia dengan ukuran mini 7 cm dan 13 cm. Siapa pun pasti akan merasa gemas ketika melihat si Danbo ini. Bagaimana tidak DANBO dapat digerakkan secara manual dan dibentuk dengan berbagai macam gaya unik.
Perusahaan yang membuatnya menggunakan teknologi tinggi di setiap persendian boneka ini sehingga membuatnya mampu bergerak luwes. Ekspresi dari si kardus imut ini menjadi daya tarik utama. Danbo sendiri di jepang dijual dengan harga mulai dari 5000 yen atau sekitar Rp. 500.000 rupiah per bijinya. Dalam serial manganya danbo mungil ini dapat bergerak ketika ada koin yang dimasukan kedalam mulutnya. Anda tertarik memilikinya? Saat ini boneka kardus ini bisa dipesan Online di Amazon.jp."
Jadi bagi anda yang tidak punya duit untuk memesan silahkan anda 
buat sendiri saja yah ,Selain biayanya murah kita juga bisa
mengasah kreativitas kita disini .

Gambar Berikut Ini yang Harus sobat Cetak menggunakan Printer untuk membuatnya,, Seketsa Boneka Danbo !!



Peralatan yang harus digunakan untuk membuat Boneka Danbo
1. Gunting
2. Cutter / Silet
3. Lem Kertas
4. Rokok ( buat yang ngrokok)
5. Kopi ( temennya rokok)
6. Kesabaran Untuk mengerjakan Kreatifitasdikarenakan membutuhkan waktu yang cukup lama 2 sampai 3 jam pengerjaan.


URUTAN PEMBUATAN BONEKA DANBO SEBAGAI BERIKUT !
Peralatan yang harus digunakan untuk membuat Boneka Danbo
1. Gunting
2. Cutter / Silet
3. Lem Kertas
4. Rokok ( buat yang ngrokok)
5. Kopi ( temennya rokok)
6. Kesabaran Untuk mengerjakan Kreatifitasdikarenakan membutuhkan waktu yang cukup lama 2 sampai 3 jam pengerjaan.

URUTAN PEMBUATAN BONEKA DANBO SEBAGAI BERIKUT !
No 1 Dibentuk Menjadi kepala Danbo
No 16 Dibentuk Menjadi Tangan Danbo
No 8 Dibentuk Menjadi Badan Danbo
No 3  Dibentuk sesuai pola , Kemudian di rekatkan 
pada tangan danbo / pada no 16
No 6 Dibentuk sesuai dengan pola
dan membuat bagian seperti tabung, sebagai engsel penggerak pada tangan Danbo dan No. 07 untuk penutupnya. Setelah itu, untuk tempat engselnya di gunakan pola No. 09
Gabungkan Tangan denga tempat Engsel yang telah anda buat .
Setelah itu Gabungkan Tangan dengan badan danbo ( no 8 ) 
Bentuklah tabung dari No. 15, sebagai penutup tabung gunakan lingkaran pada No. 14. Kemundian gabungkan tabung-tabung tersebut dengan pola No. 13. Ini adalah sebagai engsel pada kepala.
Gabungkan pola No 12 dengan engsel kepala.
 Rekatkan engsel kepala tersebut pada bagian badan Danbo.
Rekatkan bagian kepala ke engsel kepala tersebut.
No 2 Dibentuk menjadi kaki kaki danbo
Buatlah engsel pada kaki dengan membentuk tabung pada pola No. 17, dengan lingkaran penutup No. 5. Gabungkan kedua kaki dengan engsel tersebut.
                             Rekatkan kaki yang sudah jadi di bagian dalam badan Danbo tersebut.

Dan Boneka Danbo  Telah jadi Dan Selamat Mencoba
READ MORE - Pola Boneka Danbo 1

Jangan memaksakan kemampuan anak

Mohon di baca sampai habis semoga bermamfaat...Sangat menginspirasi untuk para orang tua

“Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni.
Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras.
Doni meringis.
Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk.
Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu
Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus.
Doni menangis “ Ampun, ....ayah..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung.
Doni tegar dengan siksaan itu.
Tapi matanya memandangku.
Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik adikmu.
Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar.
Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol,,

Mau jadi apa kamu nanti ?
Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni.
Suamiku terduduk dikorsi.
Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku

 “ Kamu ajarin dia.
Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk.
"Dengar itu..!!!“
Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.

Kupeluk Doni.
Matanya memudar.
Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya.

Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol" Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”

“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri.
Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini.
Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “

“ Doni bukan anak ayah.”
Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “

Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni mengigau terus.
Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni.
Kurasakan badannya panas.
Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya
Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas.
Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga

Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya.
Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai.
Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup.
Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Doni adalah putra tertua kami.
Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit
Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga.
Ketika itulah aku hamil Doni.
Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain.
Diapun kurang gizi.
Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN.
Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir, juga laki laki
dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya.
Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula.
Makanya mereka disekolah pintar pintar.
Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku.
Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya.
Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas.
“ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali.
Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas.

“ Aku ini dari keluarga miskin Manapula aku ada gizi cukup.
Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil.
“ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.

Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.?!!!!??

“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “

“ Biar dia bisa dididik dengan benar”

“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”

“ Ini sudah keputusanku, Titik.

“ Tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam.
Aku tahu alasannya.
Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami.
Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni.
Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya.
Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku
dan aku akan selalu ada untuknya Aku tak berdaya.
Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.

Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku.
Dia nampak bingung.
Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.

Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.

Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng.
Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. ...!!!!
Kamu harus ikut kata Ayah.
Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku.
Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok.
Dia harus diajarkan mandiri.
Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.

Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasah Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU
dan Rini kelas 2 SLP.
Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya
Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk.
Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam.
Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan.
Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh

Ku perhatikan tahun demi tahun perubahan Doni setelah mondok.
Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya.
Dia sangat mandiri dan hemat berbicara.
Setiap hendak pergi keluar rumah,
dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku
Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah.
Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas.
 “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas.
Sudahlah.
Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “
Demikian alasan suamiku.
Aku dapat memaklumi itu.
Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok                               
Donipun tidak pernah bertanya.
Dia hanya menanti dengan sabar.

Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan.
Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni.
Tapi Doni tetap diam.
Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku
Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami.
Aku tersentak.
Benarkah itu.
Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda.
TIdak, Bunda percayakan dengan Doni.
Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.”
Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi.
Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni.
Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali.
Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah.
Doni tidak protes.
Dia hanya diam dan menerima keputusan itu.
Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku.
Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah.
Maafkan Doni “ Pesannya.
Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya.
Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni.
Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.

“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.

“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.

*
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah.
Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku.
Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota.
Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri.
Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis.
Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan.
Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh.
Rinipun sama.
Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan sosial kami semakin berkelas.
Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar.
Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja.
Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat.
 Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “

*
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi.
Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan.
Selama proses itupula suamiku nampak murung.
Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensi.
Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara Media massa memberitakan itu setiap hari.
Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya.
Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan.
Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku.
Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan.
Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami.

Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku.
Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.

Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya.
Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya.
Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku.
Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni.
Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame.
Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami.
Tak lebih setahun setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah
Seusai sholat berjamaah Doni tak lupa duduk bersila dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

" Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah.  Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat.  Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita.  Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “

“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah
Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan.
Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat.
Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “

Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis
Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah
Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara
Kesehatannya membaik.
Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah.
Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah

Sahabatku terdapat beberapa pesan moral dlm cerita itu antara lain :

1).Jangan memaksakan kemampuan anak

2).Jangan merendahkan kemampuan anak

3).Kesuksesan bukan hanya diukur dari kemampuan akademik/nilai raport

4).Anak yg kelihatannya "terbelakang" belum tentu gagal

5). Kasih sayang yg kita berikan kpd semua anak harus adil sesuai dng porsinya

6).Jangan hanya memikirikan uang yg banyak tetapi tidak halal..

Semoga bermanfaat buat sahabat semua dan Allah jadikan kita semua dan keluarga kita menjadi hamba yg di rahmati, di Ridhoi, di Berkahi jg di bebaskan dari siksa api neraka...                   
Dari Hamba Allah Yang HINA 
Aamiin...*Mohon di baca sampai habis semoga bermamfaat...*Sangat menginspirasi untuk para orang tua

“Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni.
Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras.
Doni meringis.
Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk.
Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu
Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus.
Doni menangis “ Ampun, ....ayah..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung.
Doni tegar dengan siksaan itu.
Tapi matanya memandangku.
Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik adikmu.
Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar.
Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol,,

Mau jadi apa kamu nanti ?
Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni.
Suamiku terduduk dikorsi.
Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku

 “ Kamu ajarin dia.
Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk.
"Dengar itu..!!!“
Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.

Kupeluk Doni.
Matanya memudar.
Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya.

Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol" Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”

“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri.
Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini.
Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “

“ Doni bukan anak ayah.”
Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “

Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni mengigau terus.
Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni.
Kurasakan badannya panas.
Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya
Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas.
Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga

Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya.
Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai.
Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup.
Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Doni adalah putra tertua kami.
Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit
Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga.
Ketika itulah aku hamil Doni.
Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain.
Diapun kurang gizi.
Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN.
Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir, juga laki laki
dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya.
Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula.
Makanya mereka disekolah pintar pintar.
Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku.
Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya.
Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas.
“ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali.
Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas.

“ Aku ini dari keluarga miskin Manapula aku ada gizi cukup.
Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil.
“ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.

Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.?!!!!??

“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “

“ Biar dia bisa dididik dengan benar”

“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”

“ Ini sudah keputusanku, Titik.

“ Tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam.
Aku tahu alasannya.
Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami.
Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni.
Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya.
Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku
dan aku akan selalu ada untuknya Aku tak berdaya.
Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.

Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku.
Dia nampak bingung.
Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.

Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.

Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng.
Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. ...!!!!
Kamu harus ikut kata Ayah.
Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku.
Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok.
Dia harus diajarkan mandiri.
Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.

Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasah Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU
dan Rini kelas 2 SLP.
Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya
Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk.
Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam.
Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan.
Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh

Ku perhatikan tahun demi tahun perubahan Doni setelah mondok.
Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya.
Dia sangat mandiri dan hemat berbicara.
Setiap hendak pergi keluar rumah,
dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku
Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah.
Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas.
 “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas.
Sudahlah.
Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “
Demikian alasan suamiku.
Aku dapat memaklumi itu.
Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok                               
Donipun tidak pernah bertanya.
Dia hanya menanti dengan sabar.

Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan.
Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni.
Tapi Doni tetap diam.
Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku
Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami.
Aku tersentak.
Benarkah itu.
Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda.
TIdak, Bunda percayakan dengan Doni.
Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.”
Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi.
Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni.
Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali.
Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah.
Doni tidak protes.
Dia hanya diam dan menerima keputusan itu.
Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku.
Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah.
Maafkan Doni “ Pesannya.
Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya.
Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni.
Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.

“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.

“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.

*
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah.
Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku.
Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota.
Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri.
Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis.
Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan.
Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh.
Rinipun sama.
Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan sosial kami semakin berkelas.
Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar.
Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja.
Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat.
 Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “

*
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi.
Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan.
Selama proses itupula suamiku nampak murung.
Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensi.
Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara Media massa memberitakan itu setiap hari.
Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya.
Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan.
Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku.
Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan.
Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami.

Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku.
Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.

Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya.
Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya.
Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku.
Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni.
Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame.
Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami.
Tak lebih setahun setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah
Seusai sholat berjamaah Doni tak lupa duduk bersila dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

" Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah.  Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat.  Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita.  Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “

“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah
Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan.
Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat.
Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “

Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis
Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah
Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara
Kesehatannya membaik.
Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah.
Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah

Sahabatku terdapat beberapa pesan moral dlm cerita itu antara lain :

1).Jangan memaksakan kemampuan anak

2).Jangan merendahkan kemampuan anak

3).Kesuksesan bukan hanya diukur dari kemampuan akademik/nilai raport

4).Anak yg kelihatannya "terbelakang" belum tentu gagal

5). Kasih sayang yg kita berikan kpd semua anak harus adil sesuai dng porsinya

6).Jangan hanya memikirikan uang yg banyak tetapi tidak halal..

Semoga bermanfaat buat sahabat semua dan Allah jadikan kita semua dan keluarga kita menjadi hamba yg di rahmati, di Ridhoi, di Berkahi jg di bebaskan dari siksa api neraka...                   
Dari Hamba Allah Yang HINA 
Aamiin...

*sumber Internet
READ MORE - Jangan memaksakan kemampuan anak

Kamis, 09 November 2017

Waktu Kamu Gak Punya Uang, "Keluargalah" yang Akan Pertama Menindasmu!

Waktu Kamu Gak Punya Uang, "Keluargalah" yang Akan Pertama Menindasmu! Ngenes, Tapi Inilah Kenyataan Hidup!

Keluarga, kata ini bisa dibilang sangat menarik. Waktu miskin menindasmu, membulimu, waktu kamu kaya malah sirik, benci kamu, menjauhi kamu, biasanya itu bukan teman!
Kebanyakan orang waktu dia jatuh dan tidak punya apa-apa, yang pertama kali menindasmu itulah keluargamu. Orang yang tidak pernah miskin mungkin tidak akan pernah mengerti, tapi asalkan kamu pernah miskin sekali saja, kamu akan langsung mengerti hati manusia yang sebenarnya.
Saat kamu jatuh terpuruk, keluarga sampai yang terdekat sekalipun, tidak hanya tidak membantumu, malah akan melecehkanmu, inilah kenyataan kehidupan sosial di jaman sekarang. 「Cuman bisa mengandalkan diri sendiri」 sepertinya kalimat ini memang sangat benar. Saat semuanya baik-baik saja, semua orang pasti akan berkata, kita ini keluarga. Tapi saat semuanya sudah tidak ada lagi, semuanya akan bersembunyi jauh, bahkan nada bicara dan sorot matanya padamu juga tidak sama lagi seperti dulu. Hal ini jelas membuat hati ini dingin, tapi sobat, jangan terlalu berharap pada orang lain, andalkanlah diri sendiri!

Kamu boleh tinggal di rumah kecil, makan seadanya, pakai baju seadanya, tapi kamu tidak boleh sampai tidak punya uang sama sekali! Kalau kamu tidak punya uang sama sekali, semua orang akan langsung menginjakmu! Asal kamu punya yang, kalau kamu pakai baju seadanya, orang bilang kamu sederhana, makan seadanya, orang bilang kamu sehat!

Tapi kalau kamu miskin, jangan harap cari teman, bahkan keluargapun juga tidak bisa dicari!

10 tahun lalu, setiap orang di sekitarmu akan memandangmu berdasarkan 「penghasilan orang tuamu」, 10 tahun kemudian semua orang di sekitarmu akan memandangmu berdasarkan 「penghasilanmu untuk istri dan anakmu.」 Ini adalah manusia…
Memang ngenes, tapi inilah kenyataan sekarang ini, tak peduli saudara atau keluarga, semua pasti akan memandangmu dan mempedulikanmu berdasarkan semua yang kamu miliki.

Waktu kamu punya uang, kata-katamu akan didengar orang. Di dalam kehidupan sosial, kalau kamu punya uang, semua yang kamu lakukan jadi masuk akal, kalau kamu tidak punya uang, semua kata-katamu itu hanya angin lalu.

Intinya, dalam hidup ini, segala pencapaianmulah yang akan dilihat orang, kalau pencapaianmu tidak cukup tinggi, semua orang tidak akan memandangmu, malah akan menindasmu. Dari segala keterbatasanmu, orang lain akan menertawakanmu.
Hidup ini tidak sempurna, namun sebuah perjalanan menuju hari depan yang lebih baik, penilaian orang lain terhadap dirimu selamanya hanya berdasarkan apa yang kamu capai.
Tapi sobat sekalian, tak peduli bagaimanapun, carilah selalu kebahagian dari segala hal yang kamu lakukan di dalam hidup ini, mungkin hidupmju tidak sempurna, namun kamu tetap bisa merasakan kebahagiaan!

Kadangkala, jangan terlalu menganggap apa pandangan orang lain, kalau kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik, selalu berserah pada Yang Maha Kuasa, jangan pernah bersandar pada pandangan orang lain sobat, kamu bisa-bisa akan selalu kecewa!
READ MORE - Waktu Kamu Gak Punya Uang, "Keluargalah" yang Akan Pertama Menindasmu!

Kamis, 26 Oktober 2017

kepompong seekor kupu-kupu

Seorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu.Suatu hari ada lubang kecil muncul.Dia duduk dan mengamati dalam beberapa jam kupu-kupu itu ketika diaberjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebihjauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambilsebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya.Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut.
Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa padasuatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya yang mungkin akan berkembang dalam waktu.Semuanya tak pernah terjadi.Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak disekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut.

Dia tidak pernah bisa terbang.Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebutadalah bahwa kepompong yang menghambat, dan perjuangan yg dibutuhkankupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu masuk ke dalamsayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu diamemperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Renungan :Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkinmelumpuhkan kita.Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu.Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

Saya memohon Kekuatan dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.Saya memohon Kebijakan dan Tuhan memberi saya persoalan untukdiselesaikan.Saya memohon Kemakmuran dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.Saya memohon Keteguhan hati dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.Saya memohon Cinta dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalahuntuk ditolong.Saya memohon Kemurahan / kebaikan hati dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan
READ MORE - kepompong seekor kupu-kupu

Kembali ke Hati Nurani


Manusia saat ini mengalami kemajuan dalam segala hal, tetapi dalam bidang kerohanian, manusia tetap kurang pengetahuan. Mereka menjelajahi angkasa, gunung dan lautan tetapi tidak pernah menjelajahi dirinya sendiri.


Agama khususnya islam di ada karena jaman dahulu manusia karena kebodohan manusia yang luar biasa yang disebut dengan jahiliyah, dan Allah mengutus nabi Muhammad untuk memperbaiki ahlak dan menyempurnakan hati dan kehidupan manusia.


Manusia disebut bodoh apabila tidak bisa mengenal dirinya sendiri. Manusia boleh menguasai segala sesuatu yang ada di dunia, tetapi bila ia tidak tahu menahu tentang jiwanya, maka seluruh hidupnya akan menjadi sia-sia...


Kembali ke awal tujuan hidup manusia di muka bumi adalah untuk bersatu kembali dengan Tuhan, maka apabila manusia memalingkan mukanya dari Tuhan... manusia tersebut akan mengalami kehampaan dalam kasih sayang dan akan menjadi kosong, serta akan berbuat yang tidak berguna.


Beberapa ulama berpendapat kita dapat menemukan tuhan didalam jiwa kita, tubuh manusia. Jiwa maupun Tuhan terdapat di dalam tubuh manusia, tetapi keduanya terhalang oleh tirai ke akuan... dan karena itulah maka jiwa tidak dapat melihat Tuhan


Tuhan tidak terbatas, yang melampaui semuan yang tersebar dari segala yang besar dan mengambil wujud yang terkecil di antara wujud yang terkecil... Tuhan menampakan diriNya dalam hati manusia


Hati nurani adalah pusat atau sentral kesadaran manusia. Kalau hati nuraninya suci pasti pikirannya suci, begitu pula dengan perbuatannya. Tempat berkumpulnya bagi mereka yang hatinya bersih dan tak bernoda dan tempat mengingat Tuhan - itulah Hati Nurani.


Kembali merenung mengapa saat ini manusia jauh dari hati nurani, semua seprti tidak mengenal diri sendiri, fitrah manusia adalah seorang yang baik…, sifat yang ingin bershabat, sifat saling mengasihi.


Adakah cara mengembalikan hati nurani yang telah ditinggal pergi oleh sang pemilik hati…. Semua karena ego dan nafsu untuk meraih semua untuk dimiliki, walau semua orang tau bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, bahwa harta, jabatan, dan semua hiasan dunia tidak lah kekal. Tapi mengapa banyak orang yang meninggalkan nurani.


Saya bukanlah seorang besar yang memiliki harta, kekuasaan untuk mengubah dunia yang terlalu luas, tapi saya berkeinginan dan bermimpi untuk hanya sekedar mengingatkan untuk para sahabat dapat kembali mendengarkan hati nurani.


Dengan mendengarkan nurani, kita tidak akan mencuri, dengan mendengarkan nurani kita tidak akn berbuat jahat, karena nurani membimbingkita kearah kebaikan, mari kita berbuat dengan hati nurani.


" Karena nurani akan membimbing kita kearah kebaikan "


" kembali mendengarkan hati nurani, untuk menghindar dari perbuatan keji"


Dalam Perenungaku, mengajak semua sahabat kembali mendengarkan hati nurani
Depok 30 October 2007 21:00
Erwin Arianto
Main ke https://catatan-erwin.blogspot.co.id/
READ MORE - Kembali ke Hati Nurani

Rabu, 25 Oktober 2017

Kepercayaan Diri

Banyak kesulitan dan tantangan kerja. Inilah kiat meningkatkan kadar " PD " anda.
Merasa lemah dan tak berdaya menghadapi tantangan di tempat kerja ? tidak mampu mengembangkan karier karena tidak berani mencoba ?. Lalu, apa kiat praktis mengembangkan kepercayaan diri ?.

Kenali Diri Sendiri
Memiliki rasa percaya diri lebih merupakan pemahaman mengenai posisi kita dalam berinteraksi dengan setiap orang.

Salah satu alasan utama yang menyebabkan banyak orang merasa rendah diri adalah karena mereka takut dinilai buruk oleh orang lain.

Jangan Biarkan Orang Lain Menentukan Kehidupan Anda
Jangan buang waktu dengan membiarkan orang lain melecehkan anda. Jangan biarkan orang lain menentukan kehidupan seperti apa yang akan anda jalani. Sadarilah apapun yang terjadi pada anda dan apapun yang anda raih tergantung dari anda. Dengan kata lain, tak ada orang lain yang bisa menjalani kehidupan untuk anda.
Cintailah Diri Sendiri Tanpa Syarat Kita sering menggunakan kalimat " Saya baru merasa nyaman bila¡Ä¡Ä..sudah punya usaha sendiri, bertubuh langsing, punya suami, gaji naik dan tidak terbelit hutang dst.". Dengan kata lain, anda baru akan merasa nyaman dan mencintai diri sendiri, jika keinginan anda telah terpenuhi. Inilah yang dimaksud menyenangi diri secara bersyarat. Tak ada salahnya merasa puas dan berbangga diri bila mencapai sukses. Tapi anda akan merugikan diri sendiri, bila harus mencapai sukses dulu sebelum diri anda merasa nyaman.

Miliki Citra Diri Positif
Seseorang bisa menjadi percaya diri manakala dia mempunyai citra positif atas dirinya. Misalnya, anda berpikir anda cantik, pintar, memiliki kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain dengancara yang baik, dst. Seseorang yang memiliki citra dan pikiran positif atas dirinya otomatis dia akan merasa nyaman, bahagia, dan menerima diri apa adanya,penghargaan terhadap dirinya ( self esteem ) pun tinggi. Saat penghargaan terhadap diri tinggi, praktis orang tersebut akan termotivasi untuk bertingkah laku dengan cara baik pula. Semua itu akan membentuk konsep diri. Pada prinsipnya, kepercayaan diri merupakan persepsi subjektif seseorang akan dirinya sendiri.

Yakinlah Pada Diri Sendiri
Saat melakukan sesuatu, satu hal yang harus anda yakini, yakni anda bisa mengandalkan diri sendiri. Karena kepercayaan diri tidak tumbuh dari keahlian melakukan sesuatu, tapi keyakinan diri pada kemampuan, kerja keras kita untuk meraih keinginan.

Bersyukurlah
Bersyukur merupakan salah satu jalan untuk bisa percaya diri. Bersyukur tak hanya dimaknai dengan ucapan " alhamdulillah " tapi melihat diri sendiri ibarat gelas yang setengah berisi, bukan setengah kosong. Dengan kata lain, melihat potensi diri dan mengasahnya. Jadi, makna bersyukur disini adalah ketika kita mampu mengasah apa yang kita punya sehingga menjadi optimal. Introspeksi Diri
Tujuannya agar kita memiliki pengetahuan dan informasi tentang diri sendiri, tentang siapa sebenarnya kita. Buatlah daftar ( tulis pada sehelai kertas ) tentang hal-hal positif dan negative dalam diri, kemampuan dan hambatan diri. Jangan sampai ada yang terlewat. Penting juga mengetahui adakah harapan-harapan kita yang terlalu tinggi, yang tak realistis untuk dapat dicapai. Tandai itu.

Mengubah paradigma tentang diri sendiri menjadi sangat penting. Pintar-pintar melihat apa yang ada dalam diri sebagai " sesuatu " bahwa yang dinilai tinggi adalah hal yang kita punya, bukan yang tidak kita miliki. Tulislah hal-hal yang tidak anda sukai dari diri sendiri, yang bisa merugikan anda serta menutup kesempatan untuk meraih kebahagiaan dalam hidup
READ MORE - Kepercayaan Diri

Biarkanlah Jiwa Kebaikan Bersemanyam dalam Diri Kita

 Biarkanlah Jiwa Kebaikan Bersemanyam dalam Diri Kita ...
Tak perlulah kita gundah untuk semua kebaikan yang kita lakukan meski sekuat tenaga kebaikan yang coba kita torehkan untuk orang lain tetapi orang lain tetap tak bergeming, curiga, bahkan menyudutkan dengan tuduhan bahwa seolah mereka mencium aroma kebusukan di baliksemua tindakan yang kita lakukan. Risau dan gundah, buanglah jauh-jauhperasaan demikian. Bisa jadi mungkin orang tidak memahami dengan pasti kebaikan yang kita berikan, atau kemampuan atau sumber daya menerima untuk menerima kebaikan kita terbatas, atau bisa jadimemang itu memang sebuah ujian untuk kita hadapi dalam menaiki anaktangga ketulusan.

Janganlah banjirnya pujian membuat kita begitu terlena, atau sebaliknya janganlah pula kita berlama-lama dengan kecewaan yang mendera akibatpenerimaan orang lain tidak seperti yang kita harapkan. Karena memangkita tak pernah mengukur sebuah ketulusan dan pamrih. Dan tentunya mendengar pujian adalah sebentuk pamrih juga yang semestinya tak diperlukan dalam sebuah ketulusan. Jelas bukan, putuskan ikatankekecewaandari hati kita oleh cibiran dan hinaan orang lain yang terus menggangguniat baik yang keluar dari lubuk hati yang tulus. Biarkan hati kita mengalir butiranair kebaikan dalam keluasan samudera hati.

Berbuat baiklah terus seakan-akan kita tak menyadari sedang melakukankebaikan. Semestinya memang kita tak perlu merasa baik, karena di saatkitamerasakannya, kebaikan itu mengambil jarak dari kita. Ia menjadi sesuatuyang lain dari diri kita. Semestinya kebaikan menyatu dalam diri kita.Di saat mengasah sebuah pisau, takkan kita dapati ia menjadi tajam, hingga kita berhenti untuk merasakan ketajamannya. Di saat kitamelakukan kebaikan,kita tak perlu berusaha untuk menyadarinya. Biarkan kebaikan mengalirbegitu saja, karena hanya bila kita berhenti sajalah kita baru bisa merasakannya.Dan di saat berhenti, kebaikan itu bukan lagi milik kita. Di saat kitaberusaha merasakannya, kebaikan itu sudah menjadi milik pisau.

Biarkan orang lain memperlakukan kita sikap atau cara apapun yang mungkin dapat saja begitu menyakitkan hati, biarkan kebaikan kitadihempaskansedemikian rupa, karena memang mutiara tetaplah mutiara meski terletakdi dasar lumpur pekat sekalipun. So, tak ada alasan kita menjadikan hati

nelangsa dan gundah gulana. Yang pasti dunia kita tidak akan segeraberakhir hanya karena orang lain tak menyukai keberadaan dan segala kebaikan yang kita lakukan, bukan! So Cheers up biarkan jiwa baik bersemayam di dalam diri kita

READ MORE - Biarkanlah Jiwa Kebaikan Bersemanyam dalam Diri Kita

Etos Kerja

Kumpulan Contoh Makalah: Pengertian dan Maksud Etos Kerja Islam (Muslim). Etos Kerja Muslim - Pengertian, maksud, dan penjelasan etos kerja muslim (menurut/ dalam perspektif agama Islam).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etos adalah pandangan hidup yangg khas dari suatu golongan sosial. Jadi, pengertian Etos Kerja adalah semangat kerja yg menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. 

Etos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Sedangkan Etos Kerja Muslim dapat didefinisikan sebagai cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa bekerja tidak hanya bertujuan memuliakan diri, tetapi juga sebagai suatu manifestasi dari amal sholeh dan mempunyai nilai ibadah yang luhur. 

Etos Kerja merupakan totalitas kepribadian diri serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini, dan memberikan sesuatu yang bermakna, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high performance). 

Etos Kerja Muslim didefenisikan sebagai sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, melainkan juga sebagai suatu manifestasi dari amal sholeh. Sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, melainkan sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah yang didera kerinduan untuk menjadikan dirinya sebagai sosok yang dapat dipercaya, menampilkan dirinya sebagai manusia yang amanah, menunjukkan sikap pengabdian sebagaimana firman Allah, “Dan tidak Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, (QS. adz-Dzaariyat : 56).

Bekerja adalah fitrah dan merupakan salah satu identitas manusia, sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman tauhid, bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, tetapi sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah SWT. 

Apabila bekerja itu adalah fitrah manusia, maka jelaslah bahwa manusia yang enggan bekerja, malas dan tidak mau mendayagunakan seluruh potensi diri untuk menyatakan keimanan dalam bentuk amal kreatif, sesungguhnya dia itu melawan fitrah dirinya sendiri, dan menurunkan derajat identitas dirinya sebagai manusia. 

Setiap muslim selayaknya tidak asal bekerja, mendapat gaji, atau sekedar menjaga gengsi agar tidak dianggap sebagai pengangguran. Karena, kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat tauhid dan tanggung jawab merupakan salah satu ciri yang khas dari karakter atau kepribadian seorang muslim. 

Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk menjadi pengangguran, apalagi menjadi manusii yang kehilangan semangat inovatif. Karena sikap hidup yang tak memberikan makna, apalagi menjadi beban dan peminta-minta, pada hakekatnya merupakan tindakan yang tercela. 

Seorang muslim yang memiliki etos kerja adalah mereka yang selalu obsesif atau ingin berbuat sesuatu yang penuh manfaat yang merupakan bagian amanah dari Allah. Dan cara pandang untuk melaksanakan sesuatu harus didasarkan kepada tiga dimensi kesadaran, yaitu : dimensi ma’rifat (aku tahu), dimensi hakikat (aku berharap), dan dimensi syariat (aku berbuat). 

Etos Kerja: Dimensi Ma’rifat (Aku Tahu)

  • Tahu siapa aku, apa kekuatan dan kelemahanku,
  • Tahu apa pekerjaanku,
  • Tahu siapa pesaingku dan kawanku,
  • Tahu produk yang akan dihasilkan,
  • Tahu apa bidang usahaku dan tujuanku,
  • Tahu siapa relasiku,
  • Tahu pesan-pesan yang akan kusampaikan

Etos Kerja: Dimensi Hakikat (Aku berharap)

Sikap diri untuk menetapkan sebuah tujuan kemana arah tindakan dilangkahkan. Setiap pribadi muslim meyakini bahwa niat atau dorongan untuk menetapkan cita-cita merupakan ciri bahwa dirinya hidup.

Etos Kerja: Dimensi Syariat (Aku Berbuat)

Pengetahuan tentang peran dan potensi diri, tujuan serta harapan-harapan hendaklah mempunyai arti kecuali bila dipraktikkan dalam bentuk tindakan nyata yang telah diyakini kebenarannya. 


Yang membedakan semangat kerja dalam Islam adalah kaitannya dengan nilai serta cara meraih tujuannya. Bagi seorang muslim bekerja merupakan kewajiban yang hakiki dalam rangka menggapai ridha Allah. Sedangkan orang kafir bermujahadah untuk kesenangan duniawi dan untuk memuaskan hawa nafsu. 

Di Jepang dikenal sebuah istilah Keizen yang dipelopori oleh Masaaki Imai, yakni: semangat untuk terus-menerus melakukan perbaikan yang melibatkan setiap orang mulai dari pimpinan puncak sampai pekerja lapangan.

Motto Masaaki Imai:
“Engineers at Japanese plants are often warned, ‘There will be no progress if you keep on doing things exactly the same way’

"Dan para insinyur di Jepang sering diingatkan akan sebuah moto, ‘Tidak pernah akan ada kemajuan jika Anda mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama dari waktu ke waktu'"
READ MORE - Etos Kerja